google webmaster tools,

Paham Kekuasaan Sunda

Share

Posted by http://LimbanganGarut.com

KEKUASAAN kurang lebih berarti kemampuan, kesanggupan, kekuatan, kewenangan untuk menentukan. Kekuasaan meliputi wilayah keluarga, kampung, negara, lembaga. Dalam pengertian kebudayaan, wilayah-wilayah kekuasaan tadi menampakkan pola-pola yang sama. Pengaturan kekuasaan dalam keluarga, dalam kampung, dalam kerajaan sama. Itulah pola kekuasaan yang menampakkan dirinya dalam berbagai hasil budaya Sunda. Namun, kebudayaan sebagai cara hidup kelompok itu berubah terus. Apa yang akan diuraikan di sini berdasarkan artefak-artefak budaya yang sudah ada, jadi agak kesejarahan, dalam arti “telah terjadi”.

Sumber dari pemahaman ini berasal dari cerita pantun, perkampungan Sunda, kampung adat, dan silat Sunda. Paham ini tersembunyi di balik yang tampak (tangible ), sehingga memerlukan pemecahan simbol-simbolnya. Masyarakat Sunda sendiri dengan tidak disadari berlaku berdasarkan paham Sundanya, sehingga kurang berjarak untuk melihat realitas dirinya. Salah seorang mahasiswa pascasarjana di Bandung yang berasal dari Jawa Timur, pada suatu hari menyatakan pada saya, bahwa dia senang tinggal di Bandung karena orangnya ramah, baik, lembut hati. Masyarakat Sunda itu berkarakter halus, bukan kasar. Kalau harus “kasar”, tetap “halus”. Tidak keras tapi lembut. Tidak agresif tapi “diam”.

Pada dasarnya, sikap hidupnya agak ganda dalam arti positif, yakni paradoksal. Menyatu-memisah, menerima-mempertahankan, asli-berubah, mandiri-tergantung, pemilik-pemakai, tiga tapi satu dan satu tapi tiga. Genealogi dari sikap ini adalah budaya purbanya yang huma atau ladang. Hidup berladang itu menetap-pindah, produktif-konsumtif, bebas-tergantung, terbuka tertutup. Paham kekuasaannya juga berkarakter demikian itu.

Simbol kekuasaan Sunda dengan jelas sekali tergambar pada cerita pantun. Pangeran Pajajaran, misalnya Mundinglaya Dikusumah, ke mana pun pergi selalu diiringi oleh pengawal setianya, Gelap Nyawang dan Kidang Pananjung. Dalam pengembaraan Pangeran Pajajaran, dia digambarkan “diam dan pasif” tetapi sangat dihormati dan dipatuhi keputusannya. Dalam hal ini Mundinglaya lebih banyak diam, sedangkan yang aktif Gelap Nyawang sebagai pemikir dan pengatur strategi perjalanan (eksekutif ) dan Kidang Pananjung sebagai penyelesai persoalan. Namanya juga Kidang Pananjung yang selalu ada paling depan.

Inilah tritangtu Sunda . Pangeran Pajajaran yang memiliki kekuasaan, namun tidak aktif menjalankan kekuasaannya. Ia menyerahkannya kepada Gelap Nyawang untuk bekerja dan Kidang Pananjung yang bertanggung jawab terhadap keselamatan, keamanan, dan kesatuan ketiganya. Ini berbeda dengan cerita wayang Jawa. Arjuna punya tiga pengiring seperti Mundinglaya, namun segala sesuatu dipecahkan sendiri oleh Arjuna. Ketiga pengiringnya hanya bertugas menguatkan dan menghibur majikannya. Arjuna adalah pemilik, pelaksana, dan penjaga dirinya sendiri.

Pola pengaturan kekuasaan semacam itu ternyata juga ada pada pantun Sunda sendiri. Pantun Sunda dimulai dengan tugas raja Pajajaran kepada putranya agar mengembara menemukan sebuah negara. Di negara yang ditemukannya itu ia menetap dan berkuasa dengan cara mengawini putri setempat. Karena kecantikan putri tersebut, banyak raja di sekitarnya yang juga ingin memilikinya. Terjadi perang antara raja-raja perebut putri dengan abang putri tersebut (yang biasanya dipakai sebagai judul lakon pantun). Para raja dapat dibunuh oleh abang putri yang menjadi istri Pangeran Pajajaran. Atas permintaan putri, para raja dihidupkan kembali dan bersumpah mengabdi kepada Pangeran Pajajaran.

Tampak bahwa pemegang mandat kekuasaan, Pangeran Pajajaran, justru diam namun berwibawa. Sedang yang aktif menyelesaikan persoalan negara adalah abang putri atau penguasa setempat. Dan bekas-bekas musuh pangeran akhirnya menjadi pelindung dan penjaga kekuasaan pangeran. Kekuasaan Sunda yang sejati itu adanya di Pakuan Pajajaran. Rajanya tidak beranjak dari kratonnya. Yang bergerak ke luar keraton justru putra-putranya (memperluas wilayah kekuasaan). Dan pada gilirannya, para Pangeran Pajajaran itu juga bersikap seperti ayahanda mereka di Pakuan. Pangeran-pangeran itu pasif di pusat negaranya yang baru. Yang aktif menjalankan kekuasaan justru raja setempat yang sudah menjadi keluarga Pajajaran. Sedangkan para pelindung (para anggota kerajaan) adalah raja-raja asing yang non-Sunda.

Dengan demikian, kekuasaan itu dimiliki-tidak dimiliki karena yang memiliki kekuasaan tidak menjalankan kekuasaan, sedang yang menjalankan kekuasaan tidak memiliki kekuasaan yang dijalankannya. Pihak kekuasaan ketiga adalah mereka yang bertugas menjaga kesatuan dan keamanan serta perlindungan pemilik dan pelaksana kekuasaan.

Kekuasaan, dalam paham ini, masuk kategori “perempuan” bukan “lelaki”. Perempuan itu yang memiliki, sedangkan lelaki yang menjalankan kepemilikan itu. Perempuan itu adanya di dalam rumah, bukan di luar rumah. Yang bergerak aktif di luar rumah itu lelaki. Kekuasaan sejati, yakni pemilik kekuasaan atau mandat kekuasaan surga adalah Raja Pajajaran dan putra-putranya yang tersebar di seluruh Jawa Barat. Sedang yang menjalankan kekuasaan bukan Raja Pajajaran atau putra-putranya di daerah, tetapi penguasa setempat atas nama Pajajaran. Sedangkan para pelindung kekuasaan boleh orang di luar pemilik dan pelaku kekuasaan.

Pola tripartit demikian itu rupanya bersumber pada pola pemerintahan kampung-kampung Sunda. Kampung telah ada terlebih dahulu dari pada lembaga negara yang bernama kerajaan. Dalam kampung-kampung Sunda tua, seperti di Kanekes-Baduy atau di Ciptagelar-Sukabumi selatan, kekuasaan kampung terbagi menjadi pemilik kekuasaan (kampung adat yang paling tua), pelaksana kekuasaan, dan penjaga kekuasaan kampung.

Kampung pemilik adat biasaya ada di bagian “dalam” dekat bukit dan hutan kampung, kampung pelaksana kekuasaan ada di tengah, dan kampung penjaga kekuasaan ada di luar. Dalam kampung adat Kanekes, masing-masing lembaga kekuasaan itu dipegang oleh Cikeusik (dalam, tua, adat), kemudian Cikertawana (eksekutif), dan Cibeo (pelindung batas).

Dalam kampung adat yang lebih modern, yakni di Ciptagelar, tripartit itu tetap dijalankan dalam bentuk kampung buhun (pemilik dan penjaga adat buhun Sunda), kampung nagara (pemerintahan modern nasional), dan kampung sarak (kampung yang mengurus kepentingan Islam). Dalam pola pikir ini, adat Sunda diletakkan sebagai pihak “dalam”, “pemilik sejati”, dan Islam berada di “luar” yakni batas wilayah kampung. Pemerintahan nasional ada di tengah.

Ternyata pola tripartit yang sama masih berlaku di banyak perkampungan Sunda di Jawa Barat seperti terjadi di Ciptagelar. Kampung Sunda di Darmaraja dekat Situraja, misalnya, membagi kesatuan tiga kampung dalam Kampung Cipaku yang mengurus kabuyutan kampung (Raja Haji Putih), Kampung Paku Alam mengurus pemerintahan nasional-modern (lurah), dan Kampung Karang Pakuan yang letaknya dekat jalan raya Darmaraja, merupakan kampung Islam di mana masjid kampung berada.

Di sinilah sikap terbuka-tertutup, tetap-berubah, menjalankan mekanismenya. Ketegangan budaya sering terjadi antara peran adat dan peran Islam. Sementara satu pihak menekankan adat buhun Sunda sebagai pemilik kekuasaan, di pihak lain Islam sebagai pemilik kekuasaan. Peran pelaku kekuasaan tetap lembaga pemerintahan nasional yang disetujui keduanya. Bagi mereka yang menjunjung tinggi kesundaan bersikap bahwa pemilik adalah Sunda (buhun, adat), sedang bagi yang menjunjung tinggi Islam bersikap “Islam itulah Sunda”, gerakan revivalisme Sunda, saya kira, berdasarkan pikiran siapa yang seharusnya dinilai sebagai “dalam” dan siapa yang dinilai sebagai “luar”. Seperti kita baca dalam kasus pantun Sunda, kategori “luar” itu mengandung arti “asing” juga.

Pola tripartit kekuasaan Sunda ini, dalam perjalanan sejarahnya menunjukkan sikap “tetap” sekaligus “berubah”. Hal ini tampak dari penyebutan ketiga lembaga kekuasaan tersebut. Pada awalnya adalah pemilik kekuasaan, pelaksana kekuasaan, dan penjaga kekuasaan. Lalu di masa kerajaan menjadi sebutan resi, ratu, rama. Resi adalah pemilik kekuasaan yang tak bergerak, ratu adalah pelaksana yang bergerak aktif, dan rama yang merupakan rakyat (kepala kampung) yang menjaga ketertiban kampung masing-masing. Pada zaman perkembangan Islam rupanya menjadi pesantren (dalam), menak (bupati-bupati di Priangan), dan rakyat Sunda di kampung-kampung.

Terjemahannya dalam masyarakat modern Sunda, rupanya pola tripartit ini masih berlaku, yakni sebagai pemilik kekuasaan adalah rakyat Sunda (demokrasi), pelaksana kekuasaan gubernur-bupati, dan penjaga kekuasaan adalah panglima wilayah. Kategorinya; dalam, tengah, luar. Dalam dan tengah adalah Sunda, sedangkan pihak luar boleh asing (mirip para ponggawa dalam carita pantun).

Dengan demikian dasar paham kekuasaan Sunda itu lebih maternal dari pada paternal. Lebih mengasuh, rohani, adat, pikiran daripada sekadar memerintah. Sikap ini juga tercermin dalam silat Sunda yang lebih menyimpan kekuatan dari pada menggunakan kekuatan itu. Silat Sunda itu bageakeun baik untuk dirinya maupun “musuhnya”. Diri sendiri selamat dan yang menyerangnya juga selamat. Yang pertama dilakukan adalah gerak menghindar sekaligus disertai gerak menyerang. Bukan untuk mematikan, tetapi untuk membuat lawan tidak berdaya lagi. Inilah sebabnya pawang pembetul tulang banyak terdapat di kampung-kampung Sunda. Jadi, sikap terhadap kekuatan lebih menyimpan, defensif, daripada menggunakannya dan agresif. Ini tidak berarti bahwa para jawara silat Sunda kurang “berani”, justru sudah melampaui keberanian dan hanya menggunakan kekuatan tersebut apabila lawan memang sudah tak mau dibageakeun. Kekuasaan dan kekuatan itu tak boleh digunakan semena-mena, tetapi demi kesejahteraan bersama, baik dalam maupun luar.

Dalam zaman yang semakin menasional dan mengglobal ini, sikap feminin semacam itu memang dapat mengancam kesundaan. Sikap asli yang purba ini ditantang kearifannya dengan gelombang “kuasa laki-laki” yang agresif. Memang tidak mudah. Namun, pemahaman yang lebih mendalam tentang sikap hidup masyarakat Sunda ini perlu dilakukan, sehingga dapat dikenali “kedalaman sejatinya” yang kokoh namun lentur, tetap namun berubah. Feminin tidak berarti lemah, tetapi halus. Yang halus itu bisa kuat. Suatu kekuatan, kekuasaan, yang kokoh namun halus, arif, tinggi. ***

Sumber: Pikiran Rakyat , Selasa, 01 Januari 2007.

Oleh JAKOB SUMARDJO

SINDU SANDI SUNDA

Runtuyan Pa-Ra Buyut jeung Sang Rumuhun (Karuhun) bangsa Sunda dingawitan ti daerah Su-Mata-Ra . Ngarebu taun aranjeuna hirup-hurip di Mandala Hyang (Mandailing) daerah Ba-Ta-Ka-Ra nepi ka wilayah Pa-Da-Hyang (Padang).

Kasebut ajaran anu diagemna teh "Su-Ra-Yana " (ajaran Surya) ti daerah Ba-Ta-Ra Guru
(Dn Toba). Hiji mangsa Gn. Batara Guru bitu nepi ka beak congcotna, sesa satengah ayeuna jadi talaga anu pohara gede (luas lingkaran 100 Km). Ceuk carita, salila 3 bulan dunia ka rungkup ku peokna lebu.

Laju robah jaman ganti lalakon, Mandala Hyang dialihkeun ka Gn. Sunda anu ayeuna katelahna Gn. Krakatau (Ka-Ra-Ka-Twa )... harita mah can aya anu disebut "nagara" nu aya ge saukur "wangsa" (bangsa)... wilayah Mandala Hyang disebutna "Buana Nyungcung " kusabab luhur. Ari keur maya Pa-Da mah (jagat raya) aya sesebutan anu lian nyaeta; Buana Agung/Ageung/Gede (Jagat Ageung) jeung Buana Alit (Jagat Alit), kecap "buana" dibeda jaman disebutna "banua" atawa "benua".

Puncak Pertala di Buana Nyungcung Gn. Sunda dijadikeun Mandala Hyang , kitu oge gelar Ba-Ta-Ra Guru-na ngagentoskeun ciciren anu parantos tilem. Di jaman ieu kahirupan wangsa nunjukeun kamajuan anu luar biasa, kahirupan wangsa di darat ngembangkeun diri ngolah lautan (*meureun ieu cikal bakal ayana parahu teh). Katelah ieu daerah disebut "Buana A-ta" (buana anu teu oyag/ panceg/ kokoh kuat... maksudna "gunung" Sunda)... ku bangsa deungeun mah disebut "Atalan" (...sigana mah Ata-Land).

Kamajuan dina sagala rupa (di darat jeung di laut) eureun dimangsa bituna Gn. Sunda (Ka-Ra-Ka-Twa ), daratan kabagi dua (jadi Sumatra jeung Jawa). Kabeh banda bukti kamajuan jaman beak teu nyesa milu teuleum jeung taneuh-taneuhna. Anu nyesa tangtu bae teu mangrupa banda, nyaeta ajaran Su-Ra-Yana .

Sarua jeung kajadian di Batara Guru (Toba) anu wilayahna nepi ka Pa-Da-Hyang , tah kitu oge jeung Batara Guru (Sunda) anu wilayahna nepi ka Pa-Ra-Hyang (*jadi aya "Padang" oge aya "Parang ").


Tuluy eta ajaran Surayana teh dibawa di teruskeun ku Prabhu Sindu (Sang Hyang Tamblegmeneng putrana Sang Hyang Watugunung Ratu Agung Manikmaya ) maka katelahna Surayana teh jadi Sundayana (ceuk sepuh; Sindu Sandi Sunda). Ajaran Surayana/ Sundayana anu diajarkeun ku Prabhu Sindu terus nyebar ka sakabeh dunya.

Perjalanan Prabu Sindu di wilayah Jepang, anjeuna disebut Shinto (beda logat), muja ka Sang Hyang Manon (Na-Ra ) ku bangsa Jepang oge dijieun Bende-Ra . Terus lampah beuki ka luhur ka India...tug nepi di hiji walungan gede anu ngabeulah hiji lembah, engke disebutna Lembah Sungai Sindu (Hindus ceuk Barat mah)...tepatna di wilayah Jambudwipa .

Perkembangan eta ajaran luar-biasa pisan nepi ka ngalahirkeu hiji peradaban anu luhung "Mohenjodaro & Harapa " (Maharaja Sunda-Ra jeung Pa-Ra-Ha/Hu ) persis we jiga di Lembang jaman baheula (ayeuna mah geus teu aya sesana pisan).

Ajaran Prabu Sindu anu saterusna sok disebut agama Hindu ...padahal mah eusina Surayana Sundayana )... sesa ajaran anu percis pisanmah aya di Bali. Aya oge Sunda Wiwitan ...nya kitu keneh ari eusi ajaranna mah teu beda jauh, muja alam jeung panon poe jadi panutan... tah eta anu sabenerna disebut Agama Langit mah...tapi tuluy Sundayana teh disebut Animisme...Dinamisme... jsb.

(
Maka nyasab we sakabeh bangsa urang teh...leungit jati dirina, pareumeun obor....tangtu we baris rusak oge nagara jeung bangsana.

Analisa pametaan ajaran jeung pusat pamarentahan aya di foto Sundapura.

CAG ~

Ku Lucky Hendrawan
History Officer Sundapura on Facebook

http://www.facebook.com/home.php?#/topic.php?uid=27290578780&topic=8128

Petikan Wangsit Prabu Siliwangi

Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tetapi hanya pada waktu tertentu saja dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu dan membantu yang susah, tapi hanya mereka yang baik budi pekertinya. Apabila aku datang tak akan terlihat; apabila aku berbicara tak akan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang menghilang (ngahyang) bisa ditemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar (batin yang kuat). Namun sayang yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong bahkan berlebihan bicaranya.



Tue, 19 Oct 2010 @00:13


3 Komentar
image

Tue, 19 Oct 2010 @09:15

Dodon

Ass.htr nhn Kang kana artikelna, sakanteunan neuda widi abdi bade copy paste kangge aoseun

image

Tue, 19 Oct 2010 @09:44

Admin

Wa'alaikum slm. Mangga pribados ngawidian ari kangge kasaean mah, Htr nhn, salam kasadayana.

image

Thu, 25 Nov 2010 @19:26

Aas Ardiana Nugraha

Hatur nuhun pisan ........... geningan nembe mendakan anu kumplit sapertos ieu mah ........
mung teu acan di aosan artikel teh ... da resep seueur pisan ....ninggalan heula we


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Tokoh Yg Terlupakan !
image

Mama Raden Kiayi Haji Syamsudin


Dari beliaulah lahir beberapa pesantren terkenal di Kab.Garut terutama di Kec. Limbangan & selaawi, Salah satunya Pesantren Assunan, Kudang, Ciseureuh, & Cikeused
Menu Utama

 

Aktifkan RBT Muslim Bersaudara-D'Sunan. Dgn cara Telkomsel ketik symp08 sms ke 1212. Indosat ketik symp08 sms ke 808. XL / AXIS ketik symp08 sms ke 1818

 

Peresmian Mesjid Darul Muhtadin Pontren Assunan Padaleman Sunan Pancer Limbangan Garut 10/02/2012

Kontak AdminWeb Klik Disini

        Photo Bupati Garut

Bookmark and Share

SLINK
Copyright © 2018 Yayasan Assunan Limbangan · All Rights Reserved
RSS Feed