google webmaster tools,

Sejarah Kalender, jenis-jenis kalender & prakiraan watak berdasarkan tgl, bln,thn

Kalender atau tanggalan, adalah suatu cara yang teratur dan disepakati untuk menandai unsur rentang waktu yang tidak terbatas dalam daur dan hukum tertentu. Kegunaannya sudah tentu tergantung dari komunitas yang menyepakatinya. Misalnya untuk menentukan daur musim, kegiatan religius, mengukur panjang kurun dan sebagainya. Daur dan aturannya tentu saja tidak lepas dari ikatan budaya komunitas tersebut. Ada kalender yang daurnya didasarkan pada letak benda langit (misalnya kalender surya, kalender candra), dan ada pula yang tidak sama sekali (misalnyakalender pawukon   kita).

Kalender yang berdasarkan letak benda langit juga memiliki aturannya sendiri-sendiri dalam penerapannya. Beberapa kalender mencermati setiap perubahan dengan observasi dari waktu ke waktu, misalnya penentuan  garis busur cahaya pertama   dipermukaan bulan, pada  kalender ritual Islam . Kalender seperti ini tidak mungkin dirinci sebelumnya. Karena hasil observasinya bisa bergantung kepada cuaca dan peralatan yang digunakan. Sering terjadi ricuh atau standar ganda dalam kesepakatannya. Untuk keperluan duga dini (forecast) dan percetakan, tetap diperlukan kalender perkiraan, sedang ketelitiannya nanti akan sama-sama dimaklumi perihal geser menggesernya.

Kalender Gregorian (Masehi)   juga berdasar benda langit - matahari. Observasi tidak mutlak diperlukan dari waktu ke waktu. Karena itu pendahulunya,  kalender Julian , menerapkan kekeliruan berlarut-larut sampai 15 abad lebih lamanya. Karena itu kalender Julian direnovasi menjadi Gregorian dengan memperbaiki aturannya, dan memusnahkan 10 tanggal agar cocok dengan patokan semula.

Kalender dapat dipakai mengingatkan orang kepada sesuatu. Apakah yang akan terjadi, yang sedang berlangsung, dan yang telah lalu. Sebagai bentuk ketidak berdayaan orang melawan perputaran waktu diwujudkan dalam perhitungan-perhitungan. Sehingga orang sadar, kapan akan datang masa yang panas terik maupun masa yang bersimbah air. Akhirnya semakin teliti ke pengaturan untuk bertani, berburu, mengungsi, mencari ikan dan hampir segala segi kehidupan. Semuanya tercurah dalam kalender. Kalender adalah suatu bentuk pengaturan komunikasi kita dengan alam semesta.

Menurut perkiraan (Fraser, 1987) ada sekitar 40 macam kalender masih dipakai sampai saat ini. Terdiri dari kalender astronomis dan non astronomis. Pada keduanya, umumnya salah satu patokannya adalah  hari   (rotasi : putaran bumi pada porosnya),  bulan   (revolusi: putaran bulan mengelilingi bumi), dan  tahun   (revolusi: putaran bumi mengelilingi matahari). Kerancuan muncul karena patokan-patokan tersebut tidak mutlak konstan. Ada pergeseran sepanjang waktu. Sekalipun secara matematika dapat dituliskan rumus hingga 15.000 angka panjangnya, tetap tidak terdefinisikan. Mari kita lihat persoalannya.

Satu tahun tropis didefinisikan sebagai jangka waktu rata-rata yang diperlukan oleh matahari untuk pergi dan kembali lagi ke titik balik tepat di garis katulistiwa. Jangka waktunya didekati dengan rumus orbit Laskar (1986) adalah

365.2421896698  - 0.00000615359 T - 7.29E-10 T^2   + 2.64E-10 T^3 hari

di mana T = (JD - 2451545.0) / 36525

JD adalah  bilangan hari Julian . Penyimpangan antara kenyataan dengan angka rata-rata ini hanya beberapa menit saja tiap tahunnya. Perhatikan bahwa dalam T, selisih dengan bilangan Julian dibagi dengan konstanta 36525 yang merupakan angka jadian dari 365.242189... di atas. Bilangan Julian dan rumus ini pula yang dipergunakan dalam semua perhitungan kalender dan pawukon di  babadbali.com .

Satu bulan Synodic didefinisikan sebagai jangka waktu rata-rata antara titik temu posisi bulan dan matahari didasarkan pada phase bulan (penanggal / panglong). Panjangnya diukur menggunakan pendekatan teori Chapront-Touze dan Chapront (1988):

29.5305888531 + 0.00000021621 T  - 3.64E-10 T^2   hari candra per bulan

di mana T = (JD - 2451545.0)/36525

Sekali lagi JD adalah  bilangan hari Julian . Penyimpangan antara kenyataan dengan angka rata-rata (deviasi) ini adalah sampai 7 jam. Dengan demikian kira-kira 1 tahun candra adalah  354.36707   hari

Dari rumus-rumus di atas, nampak bahwa daurnya berubah perlahan seiring waktu. Teori pendekatan di ataspun masih terus diperbaiki hingga setepat-tepatnya.

Ada 3 macam kalender yang dihasilkan dari perhitungan di atas: Kalender surya (solar calendar), kalender candra (lunar calendar), dan kalendar suryacandra (luni-solar calendar). Dalam kalender suryacandra, kadang-kadang satu bulan candra utuh disisipkan untuk mengejar panjang tahun surya. Contoh dari kalender ini adalah kalender Cina, dan kalender Yahudi.  Kalender Saka Bali   mungkin mendekati suryacandra, hanya  ketentuan untuk itu masih sedang banyak dipergunjingkan.

Kalender non-astronomik di antaranya adalah  kalender pawukon   dan  wewaran   di Bali. Kalender ini tidak memperdulikan posisi astronomik sama-sekali. Namun pada penggunaannya, tidak dapat dipisahkan dari penggunaan kalender Saka Bali yang sifatnya sangat khusus dalam khasanah perhitungan kalender di dunia.

Banyak  upakara dan upacara yadnya , serta  piodalan pura   yang berdasarkan pawukon dalam menentukannya, namun banyak juga yang menggunakan penanggal dan panglong dalam kalender Saka. Demikian pula perhitungan ala-ayuning dewasa (baik buruknya hari).

Namun demikian, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Bali tetap juga menggunakan  kalender Gregorian   yang ditetapkan secara internasional. Adanya tiga kalender yang digunakan setiap waktu, merupakan unsur unik dalam budaya Bali.

KALENDER ISLAM (HIJRYAH)

Kalender Islam adalah kalender candra (lunar) yang observatif. Daurnya meliputi 12 bulan candra yang bertemu (nemu-gelang) dalam 30 tahunan.

Sebagai perhitungan hari suci Islam, sasih (bulan candra) Islam diawali dari mulai nampaknya busur cahaya setelah bulan padam. Sebagai perhitungan keseharian Islam, dipakai kalender perkiraan seperti yang tampil dalam kelir ini. Oleh karena itu, penanggalan hari suci dibedakan dengan penanggalan sehari-hari yang berupa kalender perkiraan. Penanggalan religius adalah kalender yang sah karena selalu dicocokkan dengan observasi astronomis, karena itu disebut penanggalan astronomik.

Satu minggu Islam adalah 7 hari yang dimulai dari terbenamnya surya pada hari Jumat. Hari Jumat dimulai dari Kamis sore, adalah hari untuk bersembahyang. Tarikh kalender Islam dinamakan tarikh Hijryah (A. H. = Anno Higerae), untuk memperingati migrasi Nabi Muhamad dan pengikutnya dari Mekah ke Medinah, yang dipercaya sebagai hari Jumat Umanis 19 Juli tahun 622 Perhitungan Gregorian Mundur, atau hari Kamis 15 Juli 622 Tarikh Julian.

Tahun Islam panjangnya 354 hari, atau 355 hari pada tahun kabisat. Dalam daur 30 tahunan ada 11 tahun kabisat, yaitu pada tahun-tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29. Dalam tiap tahun Islam terdapat sasih-sasih sebagai berikut:

No Nama Umur (hari) Keterangan
1 Muharram 30  
2 Safar 29  
3 Rabiulawal 30  
4 Rabiulakhir 29  
5 Jumadilawal 30  
6 Jumadilakhir 29  
7 Rajab 30  
8 Shaban 29  
9 Ramadan 30 bulan perpuasa
10 Syawal 29  
11 Dulkaidah 30  
12 Dulhijah 29 atau 30 pada tahun kabisat

Kalender Jawa

Pergantian tahun Hijriah dan tahun Jawa hampir selalu bersamaan. Hal ini bisa dipahami karena sejak 370 tahun lalu kalender Jawa mengadopsi sistem penanggalan Hijriah yang berdasarkan pergerakan Bulan mengelilingi Bumi.

Awalnya, hingga 1633 M masyarakat Jawa menggunakan sistem penanggalan berdasarkan pergerakan Matahari. Penanggalan Matahari dikenal sebagai Saka Hindu Jawa, meskipun konsep tahun Saka sendiri bermula dari sebuah kerajaan di India.

Tahun Saka Hindu 1555, bertepatan dengan tahun 1933 M, Raja Mataram  Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo   mengganti konsep dasar sistem penanggalan Matahari menjadi sistem Bulan. Perubahan sistem penanggalan dapat dibaca dalam buku  Primbon Adji Çaka Manak Pawukon 1000 Taun   yang ditulis dalam bahasa Jawa.

Dari naskah tersebut diketahui bahwa Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo mengubah sistem penanggalan yang digunakan, dari sistem Syamsiyah (Matahari) menjadi Komariyah (Bulan). Perubahan penanggalan berlaku untuk seluruh Pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, karena tidak termasuk daerah Mataram.

Perubahan sistem penanggalan dilakukan hari Jumat Legi, saat pergantian tahun baru Saka 1555 yang ketika itu bertepatan dengan tahun baru Hijriah tanggal 1 Muharam 1043 H dan  8 Juli 1633   M. Pergantian sistem penanggalan tidak mengganti hitungan tahun Saka 1555 yang sedang berjalan menjadi tahun 1, melainkan meneruskannya. Hitungan tahun tersebut berlangsung hingga saat ini.

Selain mengubah sistem penanggalan, ada penyesuaian- penyesuaian seperti nama bulan (month) dan hari (day). Yang semula menggunakan bahasa Sansekerta menjadi bahasa Arab atau mirip bahasa Arab. Hal ini menunjukkan kuatnya pengaruh penanggalan Islam dalam penanggalan Jawa.

Perbedaan kalender

Meskipun kalender Hijriah dan kalender Jawa dasar penanggalannya sama yaitu penampakan bulan, kalender Jawa bukanlah kalender Hijriah. Meski mengadopsi konsep dasar penanggalan Hijriah, kalender Jawa tidak mengikuti aturan penanggalannya. Kalender Jawa lebih tepat disebut sebagai penggabungan unsur- unsur Jawa dengan penanggalan Hijriah.

Konsep hari pasaran yang terdiri dari lima hari (Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage ) dan  Wuku (Pawukon)   merupakan wujud unsur-unsur Jawa yang tidak ditemui dalam penanggalan Hijriah dan Masehi. Siklus delapan tahunan yang disebut  Windu   juga merupakan konsep penanggalan khas Jawa. Nama tahun dalam penanggalan Jawa mengikuti siklus Windu, terdiri dari  Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu,   dan  Jimakir .

Secara astronomis, kalender Jawa tergolong mathematical calendar, sedangkan kalender Hijriah astronomical calendar. Mathematical atau aritmatical calendar merupakan sistem penanggalan yang aturannya didasarkan pada perhitungan matematika dari fenomena alam. Kalender Masehi juga tergolong mathematical calendar. Adapun astronomical calendar merupakan kalender berdasarkan fenomena alam sendiri seperti kalender Hijriah dan kalender Cina.

Sifatnya yang pasti sebagai mathematical calendar membuat penanggalan Jawa tidak mengalami sengketa dalam penentuan awal bulan seperti penanggalan Hijriah.

Budaya yang dilupakan

Sebagai sebuah sistem penanggalan, penanggalan Jawa merupakan salah satu produk budaya asli bangsa Indonesia. Sistem penanggalan Jawa tersebut, seperti halnya budaya Jawa lainnya, perlahan mulai hilang dari peredaran. Untunglah masih ada tradisi Suroan yang melekat dalam masyarakat Jawa dan diperingati secara rutin oleh Keraton Yogyakarta dan Surakarta. Masyarakat yang merayakan Suroan akan membersihkan diri dengan mandi di rumah, sungai, laut, diteruskan dengan begadang hingga pagi. Suroan juga dipercaya sebagai saat yang tepat untuk mencuci pusaka seperti keris dan tombak.

Hendro Setyanto  
Asisten di Observatorium Bosscha,
Departemen Astronomi-ITB Lembang, 
Forum Kajian Ilmu Falak "ZENITH"

Nama-nama Lambang, Windu, Tahun dan Bulan Jawa.
Lambang
No. Nama Lambang Umur (tahun)
1 Kelawu
8
2 Langkir
8
Jumlah
16
Windu
No. Nama Windu Umur (tahun)
1 Adi
8
2 Kuntara
8
3 Sengara
8
4 Sancaya
8
Jumlah
32
Tahun
No. Nama Tahun
Umur (hari)
1 Alip
354
2 Ehe
355
3 Jimawal
354
4 Je
355
5 Dal
354
6 Be
354
7 Wawu
354
8 Jimakir
355
Jumlah
2835
Bulan
No. Nama Bulan Tahun Dal Tahun lainnya
1 Sura
30
30
2 Sapar
30
29
3 Mulud
30
30
4 Bakdamulud
29
29
5 Jumadilawal
29
30
6 Jumadilakir
30
29
7 Rejeb
30
30
8 Ruwah
29
29
9 Pasa
30
30
10 Sawal
29
29
11 Sela
30
30
12 Besar
29 /  30
29 /  30
Jumlah Normal
354
354
Tahun Kabisat
355
355

YOGYAKARTA (Media): Hampir seluruh kalender yang beredar sekarang ini memiliki kesalahan fatal dalam penentuan tanggal  1 Suro 1935   (tahun Jawa/2002). Dalam kalender itu disebutkan, tanggal 1 Suro yang bersamaan dengan 1 Muharam, jatuh pada Jumat Kliwon. ''Tanggal 1 Suro 1935 Jawa jatuh pada  Sabtu Legi , bukan  Jumat Kliwon ," ujar pakar kalender Jawa  Wibatsu Harianto   kepada wartawan di kediamannya, kemarin.

Menurut Wibatsu, kebanyakan dari pembuat kalender tidak ingat bahwa menurut perhitungan Jawa, tahun 1934 merupakan tahun kabisat. Sehingga, penempatan bulan  Besar   adalah 29 hari. Dia menjelaskan, berdasarkan patokan perhitungan tahun Jawa, dalam satu windu (delapan tahun), terdapat tiga tahun kabisat, yakni ketika jatuh pada tahun-tahun  Ehe, Je , dan  Jimakir . Sedangkan pada 1935 Jawa, adalah tahun Jawa dalam perhitungan windu sebagai tahun  Je , sehingga tahun 1934 adalah tahun kabisat.

Dalam tahun kabisat Jawa, jelasnya, umur bulan Besar adalah 30 hari, sedangkan umur bulan Dzulhijah dalam perhitungan tahun Hijriah berumur 29 hari. Selain bulan Besar, dalam sistem kalender Jawa, yang biasanya berumur 29 hari, yakni bulan Sapar, juga berumur 30 hari. Sementara, bulan Safar (tahun Hijriah) tetap berumur 29 hari. Tahun kabisat dalam perhitungan kalender Jawa, lanjutnya, dalam satu windu terdapat tiga tahun kabisat. Sedangkan dalam perhitungan tahun Hijriah, dalam 30 tahun terdapat 11 tahun kabisat. Adanya perbedaan jumlah tahun kabisat ini mengakibatkan, antara tahun Jawa dan tahun Hijriah harus ada pergantian  kuruf   agar antara kedua perhitungan tahun itu sesuai lagi. "Ini terjadi setiap 120 tahun, kalender Jawa harus dimajukan satu hari. Untuk mendatang terjadi pada 2056 masehi," ujar Wibatsu yang dikenal pula sebagai pakar  Primbon Betaljemur .

Ralat: Bukan  2056   tetapi tahun  2099   (kelian babadbali.com)

Menurut dia, panjang tahun Jawa dengan tahun Hijriah sendiri, terdapat perbedaan. Ia menyebutkan, satu tahun Jawa berumur  354 3/8   hari, sedangkan tahun Hijriah berumur  354 11/30   hari. Salah satu alasan penempatan tanggal  1 Suro tahun Dal   --seperti tahun 1935 mendatang-- pada hari Sabtu Legi atau menempatkan bulan Besar dengan umur 30 hari, kata Wibatsu, adalah untuk menempatkan Garebeg Mulud tahun Dal jatuh pada  Senin Pon   (hari kelahiran Nabi Muhammad saw). Ia menambahkan 1 Muharam mendatang akan jatuh pada Jumat Kliwon. Kemudian, pada bulan Sapar pada tahun Dal juga akan berumur 30 hari, sedangkan bulan Safar hanya 29 hari. "Itu disengaja agar dalam kalender Jawa, Garebeg Mulud tahun Dal tetap jatuh pada Senin Pon," jelasnya.

Menyinggung pada kalender sekarang, Wibatsu mengungkapkan, antara tahun Jawa dan tahun Hijriah akan kembali bersesuaian dan kesalahan kalender Jawa akan selesai pada  9 Agustus 2002   mendatang. Dari sekian banyak kalender yang memuat tahun Jawa, saya hanya menemukan satu kalender yang benar," katanya.

Tahun Jawa Sultan Agungan dalam  kuruf Asapon   ini menetapkan umur hari dalam bulan Suro (30 hari), Sapar 29 hari (kecuali tahun Dal 30 hari), Mulud (30 hari), Bakdamulud (29 hari), Jumadilawal (30 hari (kecuali tahun Dal 29 hari), Jumadilakir (29 hari), Rejeb (30 hari), Ruwah (29 hari), Pasa 30 hari), Sawal 29 hari, Dulkaidah (30 hari), Besar (29 hari) kecuali kabisat 30 hari.

Tahun kabisat dalam perhitungan Jawa adalah tahun Ehe, Je, dan Jimakir," tegasnya.

Kalender Saka Bali

Kalender atau penanggalan Bali sangat penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Tidak seperti kalender lain yang macamnya puluhan di dunia, kalender Bali sangat istimewa. Penanggalan Bali adalah penanggalan "konvensi ". Tidak astronomis seperti  penanggalan Islam , tidak pula aritmatis seperti  penanggalan Jawa , tetapi 'kira-kira' ada di antara keduanya.

Penanggalan Bali mirip penanggalan luni-solar. Berdasarkan posisi matahari dan sekaligus bulan. Dikatakan konvensi atau kompromistis, karenasepanjang perjalanan tarikhnya masih dibicarakan   bagaimana cara perhitungannya. Ada beberapa cara yang dicoba diterapkan beberapa tahun (sistem Nampih Sasih ) kemudian kembali ke cara sebelumnya (Malamasa). Demikian sejalan dengan dinamika rakyat Bali. Berikut sedikit uraian mengenai beberapa tantangan yang ditemui dalam memformat kalender Bali secara komputasi komputer di kelir  babadbali.com .

Dalam kompromi sudah disepakati bahwa: 1 hari candra = 1 hari surya. Kenyataannya 1 hari candra tidak sama dengan panjang dari 1 hari surya. Untuk itu setiap 63 hari (9 wuku) ditetapkan satu hari-surya yang nilainya sama dengan dua hari-candra. Hari ini dinamakan  pangunalatri . Hal ini tidak sulit diterapkan dalam teori aritmatika. Derajat ketelitiannya cukup bagus, hanya memerlukan 1 hari koreksi dalam seratusan tahun. Karena itu dalam kelir babadbali.com disandingkan phase bulan secara perhitungan Bali dengan phase bulan secara astronomik.

Dalam 1 bulan candra atau sasih, disepakati ada 30 hari terdiri dari 15 hari menjelang purnama disebut  penanggal   atau  suklapaksa , diikuti dengan 15 hari menjelang bulan baru (tilem ) disebut  panglong   atau  kresnakapsa . Penanggal ditulis dari  1   pada bulan baru, sampai  15   yaitu purnama, menggunakan warna merah pada kalender cetakan. Setelah purnama, kembali siklus diulang dari angka  1   pada sehari setelah purnama sampai  15   pada bulan mati (tilem) menggunakan warna hitam. Dalam perhitungan matematis, untuk membedakan warna, sering dipakai  titi . Titi adalah angka urut dari 1 yaitu bulan baru, sampai 30 pada bulan mati. Angka 1 sampai 15 mewakili angka merah atau penanggal, 16 sampai 30 mewakili angka 1 sampai 15 angka berwarna hitam atau panglong.

Panjang bulan surya juga tidak sama dengan panjang  sasih   (bulan candra). Sasih panjangnya berfluktuasi tergantung kepada jarak bulan dengan bumi dalam orbit elipsnya. Sehingga kurun tahun surya kira-kira 11 hari lebih panjang dari tahun candra. Untuk menyelaraskan itu, setiap kira-kira 3 tahun candra disisipkan satu sasih tambahan. Penambahan sasih ini masih agak rancu peletakannya. Inilah tantangan bagi dunia aritmatika. Idealnya awal tahun surya jatuh pada paruh-akhir sasih keenam (Kanem ) atau paruh-awal sasih ketujuh (Kapitu ), sehingga tahun baru Saka (hari raya Nyepi ) selalu jatuh di sekitar paruh-akhir bulan Maret sampai paruh-awal bulan April.

Tahun baru bagi penanggalan Bali, diperingati sebagai hari raya Nyepi, bukan jatuh pada sasih pertama (Kasa), tetapi pada sasih kesepuluh (Kadasa). Idealnya pada penanggal 1, yaitu 1 hari setelah bulan mati (tilem). Pada tahun 1993, Hari raya Nyepi jatuh pada penanggal 2, diundur 1 hari, karena penanggal 1 bertepatan dengan pangunalatri dengan panglong 15 sasih Kasanga. Sekali lagi kompromi diperlukan dalam perhitungan ini.

Sejak hari raya Nyepi, angka tahun Saka bertambah 1 tahun. Menjadi angka tahun surya Masehi dikurangi 78. Dengan demikian sasih- sasih sebelum itu berangka tahun Masehi minus 79. Hal ini akan terasa janggal bagi pengguna penanggalan Masehi, karena angka tahun sasih Kasanga satu tahun dibelakang angka tahun sasih Kedasa, dan angka tahun dari sasih terakhir, Desta (Jiyestha) sama dengan angka tahun berikutnya untuk sasih pertama (Kasa).

Banyak  piodalan pura di Bali ditetapkan menurut kalender Saka . Beberapa hari suci juga berdasarkan tahun Saka, misalnya  Hari Raya Nyepi   danHari Suci Siwaratri . Dewasa ayu untuk berbagai keperluan pertanian dan industri juga sangat bergantung kepada tahun Saka, karena tahun Saka erat kaitannya dengan perjalanan musim. Pada kalender cetakan yang dibuat oleh pakar-pakar kalender Bali (pelopornya adalah pak  Ketut Bangbang Gede Rawi ) hampir tidak ada lagi ruangan untuk mencatat kejadian lain. Sudah penuh dengan segala petunjuk dan analisa tentang baik buruknya setiap hari. Itupun belum cukup, di belakang lembaran2 kalender itu selalu tercetak dengan sangat padat, informasi tentang banyak hal yang kaitannya sangat erat dengan perjalanan sang waktu. Walaupun demikian pentingnya kalender Bali, nampak selalu dicetak dengan kualitas seadanya, kalah dengan kertas mengkilap dan cetakan offset seperti kalender bergambar artis. :-))

Sayang sekali lagi, kalender Bali nampaknya hanya sampai pada tahap ini. Peranan generasi muda Bali tidak ada sama sekali. Pengkinian (update) nampaknya hanya pada angka dan kurunnya saja. Aktifitas-aktifitas yang tercakup seperti: hari baik untuk mencocok hidung kerbau, hari baik untuk menaikkan padi ke lumbung dan sebagainya, walaupun sudah langka untuk budaya kini, masih tetap ajeg tercantum seperti di lontar aslinya.

Sebetulnya kalau mau, para pakar kalender dan padewasan pasti dapat memberi petunjuk kapan hari baik untuk memformat hard disk, memulai group mailing list baru, men-tune-up karburator, mengganti filter udara AC atau kendaraan sampai hari baik untuk mengekspor produk baru dan sebagainya. Inikah ajeg Bali yang didengungkan itu?

KALENDER GREGORIAN (MASEHI)

Kalender Gregorian atau kalender Masehi, sudah menjadi standard penghitungan hari internasional. Pada mulanya kalender ini dipakai untuk menentukan jadual kebaktian gereja-gereja Katolik dan Protestan. Kalender Gregorian adalah kalender murni surya yang bertemu siklusnya pada tiap 400 tahun (146097 hari) sekali. Satu tahun normal panjangnya 365 hari, tiap bilangan tahun yang habis dibagi 4 tahunnya memanjang menjadi 366 hari, namun tidak berlaku untuk kelipatan 100 tahun dan berlaku kembali tiap kelipatan 400 tahun. Sebagai contohnya tahun 2000 adalah tahun panjang (kabisat, leap year) sedangkan tahun 1900 tahun normal.

Kalau kita bagi 146097 hari dengan 400, didapatkan angka 365.2425, hampir mendekati daur waktu surya yaitu 365.2421896698  - 0.00000615359 T - 7.29E-10 T^2  + 2.64E-10 T^3 hari. Dengan demikian koreksi pengurangan akan terkumpul menjadi 1 hari setelah sekitar 2500 tahun sekali. Usulan mengenai kapan dilakukannya koreksi itu sudah sering dihembuskan, namun belum di-institusikan.

Kalender Gregorian adalah pembaruan dari kalender Julian. Dalam 16 abad pemakaian kalender Julian, titik balik surya sudah bergeser maju sekitar 10 hari dari yang biasanya ditengarai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun. Hal ini membuat kacaunya penentuan hari raya Paskah yang bergantung kepada daur candra dan daur surya di titik balik tersebut. Dikawatirkan Paskah akan semakin bergeser tidak lagi jatuh di musim semi untuk belahan bumi utara, serta semakin menjauhi peringatan hari pembebasan jaman Nabi Musa (penyeberangan laut merah).

Pemikiran tentang koreksi ini sebenarnya telah mulai dipergunjingkan dengan keluarnya tabel-tabel koreksi oleh gereja sejak jaman Paus Pius V pada tahun 1572. Dekrit rekomendasi baru dikeluarkan oleh penggantinya, yaitu Paus Gregorius XIII, dan disahkanlah pada tanggal 24 februari 1582. Isinya antara lain tentang koreksi daur tahun kabisat dan pengurangan 10 hari dari kalender Julian. Dengan demikian, tanggal 4 Oktober 1582 Julian, esoknya adalah tanggal 15 oktober 1582 Gregorian. Tangal 5 hingga 14 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam sejarah kalender ini. Sejak saat itu, titik balik surya bisa kembali ditandai dengan tanggal 21 Maret tiap tahun, dan tabel bulan purnama yang baru disahkan untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia.

Pada mulanya kaum protestant tidak menyetujui reformasi Gregorian ini, baru pada abad berikutnya kalender itu diikuti. Dalam tubuh Katolik sendiri, kalangan gereja ortodox juga bersikeras untuk tetap mengikuti kalender Julian, namun pemerintahan demi pemerintahan mulai mengakui dan akhirnya pemakaiannya semakin meluas seperti yang kita lihat sekarang.

---------------------------------------------------------------------------------------

Kalender Julian

Kalender Julian di perkenalkan oleh Julius Caesar 45 tahun sebelum Masehi. Merupakan tahun surya dengan jumlah hari tetap setiap bulannya, dan disisipi satu hari tiap 4 tahun untuk penyesuaian panjang tahun tropis. Kalender ini digunakan secara resmi di seluruh Eropa, sampai kemudian diterapkannya reformasi dengan Kalender Gregorian pada tahun 1582.

Era sebelum 45 SM, dinamakan era bingung, karena Julius Caesar menyisipkan 90 hari ke dalam kalender tradisional Romawi, untuk lebih mendekati ketepatan pergantian musim. Penyisipan ini sedemikian cerobohnya sehingga bulan-bulan dalam kalender itu tidak lagi tepat dengan perhitungan candra (purnama tilem), walaupun sebenarnya dasar dari kalender Romawi adalah luni-solar. Akhirnya dengan nasehat Sosigenes, seorang astronom dari Alexandria, Caesar menetapkan kalendernya menjadi 12 bulan, masing-masing dengan jumlah hari tertentu seperti sekarang, dengan penetapan tahun kabisat setiap 4 tahun, dengan keyakinan bahwa panjang 1 tahun surya adalah 365.25 hari saat itu.

Sejak meninggalnya Caesar, penerapan tahun kabisat salah terap. Kabisat diberlakukan tiap menginjak tahun ke 4, jadi 3 tahun sekali. Keadaan ini konon dibetulkan kemudian oleh Kaisar Agustus, dengan meniadakan semua kabisat dari tahun 8 SM sampai tahun 4 Masehi. Setelah itu kalender Julian berfungsi dengan jauh lebih baik.

Caesar mendefinisikan 1 Januari sebagai awal tahun baru, meskipun demikian banyak yang menetapkan selain itu. Yang paling populer di antaranya adalah 1 Maret, 25 Maret dan 25 Desember.

Penetapan hari pertama tiap bulan juga berkembang. Secara Kalends, yaitu mulai hari pertama bulan baru (di Bali penanggal), Nones yaitu mulai pada pertengahan bulan (Purnama), atau Ides yaitu 8 hari setelah purnama (panglong 8). Sejalan perkembangan waktu, Kalends lebih banyak diikuti, dari sinilah mungkin istilah kalender berasal.

Demikian menurut Cappelli (1930), Grotefend & Grotefend (1941), dan Cheney (1945)

---------------------------------------------------------------------------------------

Menghitung purnama tilem di luar kepala

Hafalkan langkah-langkah di bawah ini untuk mengetahui penanggal dan panglong suatu sasih. Sameton akan bisa menebak di luar kepala, kapan tilem, purnama dan bagaimana bentuk bulan saat ini.

Perhatian: Hanya untuk tahun 2000 sampai 2009

Langkah 1 Jumlahkan 4 bilangan tahun Masehi.
Langkah 2 Kalikan dengan 11
Langkah 3 Hitung sisanya bila dibagi 30
Langkah 4 Tambahkan angka bulan (Masehi)
Langkah 5 Untuk Januari atau Februari, tambahkan 1
Langkah 6 Hitung sisanya bila dibagi 30
Langkah 7 Tambahkan tanggal (Masehi)
Langkah 8 Hitung sisanya bila dibagi 30

Perhitungan ini mendapatkan tahap penampakan bulan sebagai berikut:

Hasilnya Artinya
0 tilem
sekitar 3 bulan sabit pertama
sekitar 7 bulan paruh pertama
sekitar 15 purnama
sekitar 22 bulan paruh terakhir
sekitar 25 bulan sabit terakhir
sekitar 30 bulan mati

Ketepatannya ± 2 hari untuk sebarang waktu dalam kurun 2000 - 2009.

Contoh 1:  4 September 2005

Langkah 1 Jumlahkan 4 bilangan tahun Masehi. 2+0+0+5=7
Langkah 2 Kalikan dengan 11 7×11=77
Langkah 3 Hitung sisanya bila dibagi 30 77–60=17
Langkah 4 Tambahkan angka bulan (Masehi) 17+9=26
Langkah 5 Untuk Januari atau Februari, tambahkan 1 biarkan saja
Langkah 6 Hitung sisanya bila dibagi 30 26–0=26
Langkah 7 Tambahkan tanggal (Masehi) 26+4=30
Langkah 8 Hitung sisanya bila dibagi 30 30–30=0 tilem (±2 hari)

Contoh 2:  29 Februari 2008

Langkah 1 Jumlahkan 4 bilangan tahun Masehi. 2+0+0+8=10
Langkah 2 Kalikan dengan 11 10×11=110
Langkah 3 Hitung sisanya bila dibagi 30 110–90=20
Langkah 4 Tambahkan angka bulan (Masehi) 20+2=22
Langkah 5 Untuk Januari atau Februari, tambahkan 1 22+1=23
Langkah 6 Hitung sisanya bila dibagi 30 23–0=23
Langkah 7 Tambahkan tanggal (Masehi) 23+29=52
Langkah 8 Hitung sisanya bila dibagi 30 52–30=22 (bulan paruh terakhir)

Prakiraan Watak  berdasarkan kelahiran

Tgl, Bln &  Thn. K lik di bawah ini

Thanks to the Moonstick Information Site.
copyright © 2000 Sean Barton, all rights reserved

Sat, 24 Jul 2010 @17:56


3 Komentar
image

Sat, 24 Jul 2010 @18:20

Cecep

Hebat bos Websitenya

image

Sat, 24 Jul 2010 @18:39

Somad, S.Pd

Saya salut sama Anda. Lanjutkan demi daerah kita

image

Mon, 2 Aug 2010 @22:51

Safira

Situsnya bagus Bosss !


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Tokoh Yg Terlupakan !
image

Mama Raden Kiayi Haji Syamsudin


Dari beliaulah lahir beberapa pesantren terkenal di Kab.Garut terutama di Kec. Limbangan & selaawi, Salah satunya Pesantren Assunan, Kudang, Ciseureuh, & Cikeused
Menu Utama

 

Aktifkan RBT Muslim Bersaudara-D'Sunan. Dgn cara Telkomsel ketik symp08 sms ke 1212. Indosat ketik symp08 sms ke 808. XL / AXIS ketik symp08 sms ke 1818

 

Peresmian Mesjid Darul Muhtadin Pontren Assunan Padaleman Sunan Pancer Limbangan Garut 10/02/2012

Kontak AdminWeb Klik Disini

        Photo Bupati Garut

Bookmark and Share

SLINK
Copyright © 2018 Yayasan Assunan Limbangan · All Rights Reserved
RSS Feed