google webmaster tools,

Riwayat Jawa Barat

PENGANTAR

Sejarah Jawa Barat pada beberapa waktu yang lampau seolah-olah tidak fengkap, berhubung kekurangan "raratan" sejarah pada masa pemerintahan raja-raja dimasa silam. Oleh karena itu, untuk mengisi kekurangan tersebut. Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat semenjak tahun anggaran 1973/1974 telah menugaskan Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasdonal Jawa Barat untuk mengadakan Seminar Sejarah Jawa Barat di Sumedang, yang telah menghasilkan dua buah buku berisi kumpulan makalah denganjudul :

1.                SEJARAH    JAWA    BARAT    DISEKITAR   PERMASALAHANNYA.

2.       SEJARAH   JAWA   BARAT  DARI  MASA PRASEJARAH  HINGGA
MASA PENYEBARAN AGAMA ISLAM.

Kehadiran kedua buku tersebut kiranya belum dapat mengisi kekurangan yang menyangkut masa raja-raja di Jawa Barat. Tetapi walaupun demikian, Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat tetap berniat menelusuri kekosongan masa tersebut tadi, terdorong oleh keyakinan bahwa mustahillah suatu wilayah yang telah nyata memiliki kelengkapan budaya yang telah tumbuh berabad-abad tetapi memiliki sejarah yang mengalami kekosongan..

Oleh karena itu dengan menugaskan kepada Proyek Penerbitan Buku Sejarah Jawa Barat pada tahun anggaran 1983/1984, usaha penyusunan naskah sejarah yang "kosong" itu dilaksanakan oleh suatu tim kecil, yang telah didahului pula dengan penelitian kelapangan untuk melengkapi data sejarah berdasarkan data yang telah ada tetapikenyataannyamasihberserakan.

Tim penyusun ini akhirnya telah mampuh menemukan benang peng-hubung antara peristiwa demi peristiwa yang sebelumnya seolah-olah tidak sambung menyambung. Maka kini berhasillah diterbitkan buku Sejarah Jawa Barat yang terdiri dari empat jilid, pada masa kekuasaan raja-raja yang se­belumnya tidak pernah tersusun.

Terimakasih yang sebesar-besarnya disampaikan sebagai pernyataan penghargaan kami terhadap segala usaha tim penyusun naskah serta para pelaksana penerbitan bukunya, atas keberhasilannya mewujudkan suatu perintisan penelusuran Sejarah Jawa Barat.

Semoga hasilnya itu dapat bermanfaat bagi pengkajian dan pengembang-an selanjutnya, karena apapun didunia ini tidak ada yang kekal, walaupun kehadirannya pada masa kini adalah bertolak dari asalnya pada masa lampau.

                                                           Pimpinan Proyek

                                                      TJETJEP PERMANA SH.


                                                           PURWACARITA

=====================

Disiplin Ilmu Sejarah yang ketat memang belum memungkinkan terbuka-nya Sejarah Jawa Barat yang memadai dan memuaskan semua pihak. Karena itu sebagai upaya sementara, penyusun memberartikan diri merintis jalan yang kelak dapat dibenahi oleh para ahli dan peminat Sejarah jawa Barat.

Dalam kesempatan ini rintisan yang direntangkan hanyalah mengenai periode antara tahun 130 — 1580 Masehi yang oleh para ahli sejarah pen-dahulu kita namakan ..yuga ning rajakawasa" (jaman kekuasaan raja-raja). Itupun sejauh yang, dapat dijangkau melalui sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan.

Pembagian "jaman" yang diterapkan dalam tulisan ini hanya sekedar upaya pembagian "bab" berdasarkan lokasi pusat pemerintahan atau nama pusat kerajaan. Sejarah sesungguhnya tak mungkin dilapis-lapis karena waktu tak pernah putus atau terpotong. Jadi, hanyalah suatu upaya untuk me-mudahkan tanggapan.

Mudah-mudahan telaah rintisan "Sejarah Jawa Barat" yang ditunjang oleh Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat ini dapat menyingkap kabut peteng kesejarahan masa silamnya, yang lebih jauhnya lagi dapat menjadi kebanggaan Nasional Indonesia.

Mudah-mudahan pula dalam keadaan masyarakat yang haus akan "Se­jarah Jawa Barat", tetapi hasrat itu sulit dipenuhi karena ketiadaan bahan bacaan yang lengkap, tulisan ini merupakan pelepas dahaga yang mungkin selalu akan berkembang.

PENYUSUN


" AMANAT DARI GALUNGGUNG "

Hana nguni hana mangke

tan hana nguni tan hana mangke

aya ma beuheula hanteu tu ayeuna

hanteu ma beuheula hanteu tu ayeuna hana tunggak hana watang tan hana tunggak tan hana watang hana ma tunggulna aya tu catangna

(Ada dahulu ada sekarang

bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang karena ada masa silam maka ada masa kini

bila tiada masa silam tak akan ada masa kini ada tonggak tentu ada batang bila tak ada tonggak tak akan ada batang bila ada tunggulnya tentu ada catangnya)

(Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy)


A.   SUMBER-SUMBER YANG DIGUNAKAN

1.   Sumber prasasti

Untuk penyusunan tulisan ini prasasti-prasasti yang digunakan sebagai sumber adalah :

a.     prasasti-prasasti Tarumanagara (pembacaan Vogel),

b.     prasasti Galunggung (Geger Hanjuang),

c.     prasasti Cibadak (pembacaan Pleyte),

d.     prasasti Kawali,

e.     prasasti Kebantenan (Bekasi),

f.     prasasti Batutulis,

g.      prasasti Pasir Muara.

2.  Sumber kropak

Naskah kropak (tulisan pada daun nipah) yang digunakan adalah

a.     kropak 406 (Carita Parahiyangan),

b.    kropak 630 (Sanghyang SVcsakandang Karesiari),

c.     kropak 632 (naskah "Brandes" dari Ciburuy, Garut),

d.    kropak 410 (Carita Ratu Pakuari)

3.   Naskah-naskah Cirebon

Naskah-naskah ini merupakan hasil pertemuan para "ahli sejarah" dari hampir 90 daerah di Nusantara yang berlangsung dalam tahun 1677 M di Keraton Kasepuhan Cirebon. Hasil karya mereka itu ada beberapa ratus judul yang mengenai sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara. Ada 47 jilid yang merupakan gabungan dari sejarah berbagai daefah yaitu :

a.    Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara 25 jilid (sa/ga),

b.    PustakaPararatwan 10jilid,

c.     Pustaka Nagarakretabhumi 12 jilid.

Dari jumlah tersebut yang telah berhasil dikumpulkan oleh Museum Negeri Jawa Barat belum mencapai setengahnya. Penulisan hasil musyawarah yang berjumlah 47 jilid itu menjadi wujud pustaka memakan waktu selama 22 tahun (1677 - 1698 M).

4.  Laporan-laporan

a.     Laporan tentang situs megalitik di Jawa Barat (Van der Hoop),

b.     Laporan kepurbakalaan (Krom),

c.   , Laporan-laporan ekspedisi VOC ke daerah Batutulis,

d.     Laporan-laporan perjalanan Portugis.


5. Sumber-sumber lain     '^u

Sumber-sumber lain yang digunakan adalah tulisan-tulisan dari jaman yang lebih muda dalam bentuk karya-sastera sejauh logika dan materinya masih sejalan dengan sumber-sumber 1 sampai 4. Juga dimanfaatkan ceritera tradisional sebagai indikator setempat bahwa sesuatu situs sejarah masih mendapat tempat dalam alam fikiran penduduk di sekitarnya terlepas dari masalah benar atau tidaknya isi riwayat tersebut.

B.     DATA SEJARAH YANG DIDOKUMENTASIKAN

Pendataan ditujukan khusus kepada dokumen korporal yaitu pe-ninggalan sejarah berwujud benda yang bukan tulisan. Belum tentu data yang berhasil direkam dengan lensa kamera itu ada pertalian langsung . dengan periode sejarah yang disajikan namun kehadiran sesuatu pening-galan sejarah di suatu tempat menunjukkan pernah adanya kehidupan manusia yang teratur. Logikanya: adalah wajar bila dahulu di sekitar lokasi situs tersebut pernah berdiri suatu "organisasi pemerintahan" yang untuk mudahnya, besar atau kecil, kita sebut saja "kerajaan".

Pengamatan membuktikan bahwa suatu situs yang dapat dikategori-kan peninggalan pra-sejarah masih tetap dimanfaatkan sebagai kabuyutan dalam periode kerajaan. Di bagian kota Bogor yang pernah menjadi lokasi ibukota Kerajaan Pajajaran misalnya lebih banyak kita temui peninggalan sejarah yang berwajah "megalitik" padahal masyarakat yang pernah menggunakannya jelas telah mengenal tulisan. Karena itulah para ahli mengungkapkan tetap adanya "tradisi megalitik" walaupun jaman yang disebut megalitikum-nya. itu sendiri telah lama berlalu.

C.     PEMETAAN LOKASI SITUS

Moens (1937, 317) pernah mengutip sebuah ungkapan dalam buku History of Virginia yang artinya kira-kira: geografi tanpa sejarah sama dengan bangkai, dan sejarah tanpa geografi sama dengan gelandangan. Demikian misalnya sejarah dalam versi karya sastera seperti babad dan 1 pantun sering menyebut sekian banyak kerajaan tanpa menunjukkan di mana kira-kira lokasinya.

Pemetaan lokasi ini dilakukan dalam bentuk yang paling "sederhana" sesuai dengan daya-jangkau yang ada pada regu pelaksana. Walaupun demikian kedaruratan ini merupakan salah satu jalan pintas yang harus ditempuh karena sejarah selalu merupakan hasil jalinan kombinasi tiga faktor: manusia, ruang dan waktu. Kombinasi ini terlalu sering dipecah

sehingga sejarah sebagai salah satu faktor untuk mengenal lingkungan menjadi kabur fungsinya.

Adanya surplus kesadaran akan waktu sedikitnya akan berguna bagi kita untuk mengukur posisi terhadap masa silam, masa kini dan masa yang akan datang. Karuhun orang Sunda telah mewariskan pepatah: ka hareup ngala sajeujeuh ka tukang ngala salengkah. Itulah anjuran "orientasi" menurut perkamusan masa kini. Kombinasi waktu dengan ruang itulah yang dihadapi manusia sepanjang jaman.

Pemetaan lokasi dalam bentuk sketsa ini mudah-mudahan masih mampu memberi arti dalam kesederhanaan wujudnya. Untuk sementara sketsa itu dapatlah dijadikan sekedar bukti bahwa "kerajaan" yang dikisahkan itu bukanlah sebuah negara di "Atas-angin" atau negara di "Mana-boa".

D.   TITIKBERATPENYAJIAN

Naskah ini tidak mampu menyajikan segala aspek yang mungkin dapat digali dari kisah masa silam. Untuk sementara barulah sekedar membenahi apa yang selama ini berserakan. Itupun baru pada tahap pemancangan "tonggak-tonggak" agar kerangka kesejarahan Jawa Barat dalam bentuk masa pemerintahan raja-rajanya dapat dirangkai. Memang minim, namun lumayan untuk meringankan beban predikat yang di-lekatkan kepada Tatar Sunda sebagai daerah yang "kurang befsejarah".

Hal ini menjadi mungkin berkat naskah-naskah Wangsakerta yang ada di Museum Negeri Jawa 3arat. Beberapa kasus yang selama ini hanya dikenal sebagai "sumber Cina' atau "sumber Portugis" tersajikan pula dalam naskah-naskahnya. Demilten pula beberapa nama yang "ajaib" dalam The Suma Oriental karya Tome Pires (1513) dapat diungkap. Liku-liku naskah caritaParahiyangan pun dapat pula dilurudcan.

Ada beberapa pembiasan dalam alur bahasan yang mungkin agak terlalu jauh, tetapi hal itu sengaja dilakukan karena garis yang dilalui masih merupakan "garis-putus" dalam sejarah tanah^air kita. Dalam hal ini naskah-naskah Wangsakorta banyak memberikan "sinar terang" yang mungkin mampu meluangkan kebuntuan yang sekarang dialami dalam berbagai penafsiran sumber sejarah di tempat lain. Masalah di sekitar hubungan antara tokoh Sima dakm berita Cina dengan dinasti Sanjaya di Jawa Tengah misalnya merupakan "titik gelap" dalam sejarah Jawa Tengah. Demikian pula mengenai kekuasaan rangkap raja Sailendra di Jawa Tengah dan Sriwijaya. Naskah Wangsakerta memberikan bahan informasi mengenai kedua hal tersebut.

Sifat "populer" yang menjadi tema tulisan ini tidak memungkinkan pembahasan sumber-sumber atau catatan-catatan sebagai yang dilajim-kan. Hal-hal semacam itu sulit dikombinasikan dengan sebuah "babad modern" yang mengutamakan kelancaran alur kisah yang logis dari pada uraian argumentasi.

E.   RANGKUMAN SUMBER

Sekilas patut dikemukakan terlebih dahulu apa-apa yang dapat ditimba dari sumber-sumber sejarah yang dikenal selama ini.

Berita-berita tertua

Berita-berita tertua yang diperkirakan menyangkut Jawa Barat ialah sumber berita Cina dan sebuah karya Ptolemeus yang ditulis pertengahan abad kedua Masehi.

a.     Berita Cina

Berita yang agak samar ini menyebutkan bahwa dalam tahun 132 M raja Ye-tiao bernama Tiao-pien mengirim utusan ke Cina dan maharaja Cina memberikan hadiah kehormatan kepadanya. Di­perkirakan oleh para ahli bahwa Ye-tiao = Pulau Jawa dan Tiao-pien = Dewawarman. Karena kekurangan bukti-bukti lain, para ahli makin condong menempatkan Ye-tiao di daerah Semenanjung atau Langkasuka.

b.    Berita Ptolemeus

Dalam tahun 160 M seorang ahli Ilmu Burni Iskandariyah ke-turunan Yunani bernama Claudius Ptolemeus menulis sebuah karang-an yang di antaranya memuat keterangan yang berasal dari para pelaut Arab yang biasa berdagang ke India. Salah satu keterangannya memberitakan bahwa Iabadiou adalah sebuah negeri yang subur, menghasilkan banyak emas dan mempunyai sebuah kota dagang Argyre yang terletak di ujung barat negeri itu. Juga disebutkan beberapa tempat lain seperti: Sahara, Nusa Sabai dan Paladu.

Tentang hal ini pun beberapa ahli lebih cenderung mencari tempat di daratan Asia Tenggara sekali pun mereka sepakat bahwa kata Iabadiou = Pulau Jawa dan Argyre = kota perak.

C.    Berita perjalanan Fa-hien

Dalam tahun 413 M seorang pendeta Buda berkebangsaan Cina bernama Fa-hien pulang dari India ke negerinya melalui laut. Setelah

tiga hari kapal yang ditumpanginya bertolak dari Sri Langka kapal itu diterjang badai selama 13 hari. Setelah 90 hari terkatung-katung kapal tersebut tiba di Ya-vwdi. Di tempat ini banyak dijumpaikaum brahmana tetapi tidak ada pendeta Buda.

Setelah 5 bulan tinggal di Ya-va-di, pada tanggal 16 April tahun 414 M Fa-hien melanjutkan perjalanan ke Cina dengan menumpang sebuah kapal dagang India dengan arah timur-laut. Karena serangan badai kapal itu kehilangan arah dan setelah dua bulan lebih masih belum mencapai Kanton padahal pelayaran antara Ya-va-di - Kanton biasanya hanya memakan waktu 50 hari. Kapal dibelokkan menuju ke arah barat-laut. Pada tanggal 14 Juli 414, setelah berlayar selama 12 hari kapal Fa-hien mendarat di pantai Lu-shan ibukota propinsi Changkwang di sebelah utara Kanton.

Kebanyakan para ahli sepakat bahwa Ya-va-di dalam kisah per­jalanan Fa-hien itu Tarumanagara tetapi ada juga di antaranya yang menempatkan Ya-va-di di daerah Semenanjung. Alasannya: bila kapal Fa-hien berlayar dari Tarumanagara menuju timur-laut selama lebih dari sebulan (se belum diserang badai), kapalnya tentu akan "menabrak" Pulau Kalimantan.

d.    Berita-berita prasasti

Jumlah prasasti dari periode kerajaan di Jawa Barat yang telah ditemukan sampai saat ini belum mencapai 20 buah jumlahnya. Menurut waktunya prasasti-prasasti itu dapat dikelompokkan men­jadi :

prasasti Tarumanagara,

prasasti Kerajaan Sunda,

prasasti Kerajaan Galunggung,

prasasti Kerajaan Kawali, dan

prasasti Kerajaan Pajajaran.

Melalui prasasti-prasasti itu dapat diketahui: 1.

narna kerajaan :
   

a.
   

Tarumanagara,

 
   

b.
   

Sunda,

 
   

c.
   

Ruma(n)tak,

 
   

d.
   

Kawali,

 
   

e.
   

Pakuan Pajajaran.

nama raja      :
   

a. Rajadiraja Guru, Purnawarman Haji (Raja) Sunda, Sri Jayabupati, Batari Hyang,

Prabu Raja Wastu (Niskala Wastu Kancana) Ningrat Kancana (Dewa Niskala), dan Prabuguru Dewataprana (Sri Baduga Ma­haraja).

Berita-berita kropak

Dari naskah-naskah kropak (tulisan pada rontal atau daun nipah) dapat kita ketahui:

1.     nama kerajaan:   a.    Kendan,

b.     Galuh,

c.     Kuningan,

d.     Saunggalah,

e.     Galunggung,

f.     Pakuan, dan

g.      kerajaan-kerajaankecillainnya.

2.    nama raja      :    a.    Rea Guru,

b.     Dewaraja,

c.      Kandiawan,

d.     Wretikandayun,

e.     Mandiminyak,

f.     Sena,

g.      Parbasora,

h.    Sanjaya (Harisdarma),

• i.     Tarusbawa (Tohaan di Sunda),

j.     Demunawan,

k.   Manarah dan keturunannya,

1.     Banga dan keturunannya, dan

m.  Raja-raja daerah kecil lainnya.

f.    Berita-berita Portugis.

Sumber berita Portugis berasal dari bagian pertama abad ke-16 berupa catatan harian, catatan perjalanan dan hasil "wawancara" atau berita tidak langsung. Dari berita Portugis ini dapat kita ketahui sedikit tentang :

1.               nama kerajaan     :     Sunda,

2.       nama ibukota      :     Dayo (dayeuh),

3.     nama pelabuhan   :      Banten, Pontang, Tanara, Cigede,Kalapa,

Karawang, Cimanuk, Cirebon.

4.       jenis perdagangan,

5.               hubungan niaga,

6.       gambaran daerah dan keraton,

7.       Tokoh-tokoh:

a.     Ratu Samiam (Ratu Sangiang),

b.     Tagaril (Ki Fadhil - Fadhillah Khan),

c.     Faletehan (Fadhillah Khan),

d.     Niay Pombaya(NyaiPembayun),

e.     Lebe Usa (Lebai Musanuddin),

f     Pate Kodir (Abdul Kadir - Sabrang Lor),

g.    parapejabatpemerintahan,

h.   gambaran penduduk daerah pantai.

g.    Naskah-naskah muda.

Kelompok ini paling tua berasal dari pertengahan abad ke-18 dan diberi judul: pustaka, serat, carita, kitab atau babad. Dari cara-cara penulisan dan penyajiannya dapat pula dibedakan menjadi "deskripsi sejarah" dan "sastera sejarah" yang lebih mementingkan keindahan bahasa. Kebanyakan sudah mengambil bentuk "ceritera Panji" yang menitik-beratkan kepada kisah petualangan pemegang peran utama. Kebanyakan ditulis dalam abad ke-19 atau awal abad ke-20. Dari kelompok ini, yang ditulis tahun 1850-an. ada yang disusun dalam Bahasa Melayu untuk memenuhi pesanan Guber-nurmen.

Dalam abad ke-18 masih ada naskah yang ditulis dalam bahasa dan huruf Sunda Kuno seperti Carita Ratu Pakuan dan Carita Waruga Guru (kertas kulit saeh). Yang terakhir ini sudah berorien-tasi ke Mataram dan menyebut Banga sebagai pendiri Majapahit, Manarah sebagai pendiri Pajajaran.

Naskah-naskah abad ke-19 banyak yang disusun dalam Bahasa Jawa, baik dengan huruf Jawa maupun huruf Arab-pegon, bahkan Babad Pajajaran tidak hanya berbahasa dan berhuruf Jawa melainkan juga disusun dalam bentuk pupuh. Naskah ini dapat dijadikan salah satu contoh bagaimana sebuah kisah pantun "di-Panji-kan" menjadi babad.


F.    NASKAH-NASKAH WANGSAKERTA

Bila tulisan ini dapat dilengkapi dengan kisah ringkas tentang keraja-an-kerajaan dan terutama dengan nama-nama rajanya secara utuh, hal itu hanyalah berkat ditemukannya naskah-naskah yang disusun oleh Pange-ran Wangsakerta dan kawan-kawan. Menurut masa penulisannya naskah-naskah itu termasuk naskah muda karena baru ditulis dalam bagian kedua abad ke-17 (1677 — 1698 M), tetapi karena cara penulisan dan penyajiannya sangat berbeda, naskah-naskah ini perlu ditinjau terpisah dari kelompok naskah-naskah muda yang lainnya.

1.   Materi naskah

Naskah-naskah Wangsakerta ditulis pada kertas kulit kayu yang diolah dan digerus halus sehingga kedap air. Huruf yang digunakan adalah huruf "kawi" dengan bahasa yang dapat disebut "Jawa Tengahan" tetapi menurut Wangsakerta sendiri disebut "purwajawa". Tinta yang digunakan berwarna hitam. Di antara naskah-naskahnya yang tersimpan di Museum Negeri Jawa Barat ada yang berukuran 60 x 40 centimeter.

2.   Riviayat penulisan.

Karena kegemarannya membaca naskah-naskah kuno dan ia dikenal sebagai ahli sejarah dalam jamannya, Wangsakerta pernah menerima pesan dari ayahnya, Panembahan Girilaya, agar ia me-nyusun pustaka mengenai kerajaan-kerajaan di Nusantara. Pesan ini kemudian didukung oleh: Susuhunan Amangkurat II, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Sepuh dan Sultan Anom Cirebon.

Dalam tahun 1677 diadakanlah gotrasawala (musyawarah) di Keraton Kasepuhan Cirebon yang dihadiri oleh para mahakawi dari beberapa negara dan daerah. Kepanitiaan gotrasawala itu disusun sebagai berikut.

a.     Penanggung jawab dan tuan rumah: Sultan Sepuh dan Sultan
Anom Cirebon;

b.     Panghulu (ketua) musyawarah dan penulisan: Pangeran Wangsa­
kerta;

d.   Para penasihat :

1.          dharmadyaksa karasulan (ulama Islam) dari Arab,

2.    dharmadyaksa kasewan (ulama Siwa) dari India,

3.          dharmadyaksa kawesnawan (ulama Wisnu) dari Jawa Timur,
A. dharmadyaksa kasogatan (ulama Buda) dari Jawa Tengah,

5. dharmadyaksa kong pu ce (ulama Konghutsu) dari Semarang.

e.     Panitia pelaksana: Jaksa pepitu Cirebon yaitu :

1.         Raksanagara :     penulis naskah dan.pengatur pertemuan,

2.         Anggadiraksa:     wakil penulis naskah merangkap benda-

hara.

3.    Purbanagara :     pengumpul dan penyeleksi bahan naskah,

4.    Singanagara   :     penanggung-jawab keamanan,

5.         Anggadipraja :     duta keliling, undangan dan juru bahasa,

6.    Anggaraksa   :     penanggung-jawab konsumsi,

7.    Nayapati       :     penanggung-jawab akomodasi dan angkut-

an.

f.      Pembagian sangga (Kelompok) :

Para peserta dibagi ke dalam 5 sangga yaitu :

Sangga I: Surabaya, Pasuruan, Panarukan, Balambangan, Bali, Madura, Makasar, Banggawi, Galiyao, Malu­ku, Seran, Lwah Gajah, Ambon, Taliwang, Gurun, Bantayan, Banten, Palembang.

Sangga II: Mataram, Lasem, Tuban, Wirasaba, Semarang, Kediri, Mojoagung, Bagelen, Dermayu, Losari, Barebes,    Tegal,    Japara,   Mantingan,    Bonang.

Sangga III: Jayakarta, Demak, Kudus, Cirebon, Pasai, Geresik, Tanjungpura Karawang, Cangkuang, Kuningan, Lamongan, Tembayat, Sedayu, Barus, Malaka, Tumasik, Trengganu.

Sangga IV: Sumedang, Sukapura, Parakan Muncang, Rancama-ya, Galunggung, Ukur, Talaga, Sindangkasih, Galuh, Kertabumi, Rajagaluh, Luragung, Imbana-gara, Giri, Sendang Duwur.

Sangga V: Jambi, Bangka, Perelak, Berunai, Lamuri, Kuta-lingga, Tanjung Kutai, Tanjung Nagara, Tanjung Puri, Minangkabau, Kampeharwa (Mandailing) dan Siak.

g.     Pendengar (pangreungeu) : dari negara tetangga yaitu: Mesir,
Arab, India, Sri Langka, Campa, Benggala, Cina dan Ujung
Mendini (Semenanjung).

3. Tahap-tahap penulisan

a.    Tiap anggota sangga diharuskan menyusun sejarah daerahnya


masing-masdng yang isinya harus disepakati oleh sidang-sangga;

b.     hasil  musyawarah dalam sangga dikemukakan dalam "sidang
lengkap" oleh seorang paujar (juru bicara);

c.      dinilai kebenarannya oleh para penasihat;

d.     dinilai kecocokannya dengan isi kepustakaan yang telah diakui
keabsyahannya (di antaranya serat-serat prasasti dan naskah
rontal);

e.     setelah disepakati bersama, dibuat catatan resmi;

f.     dimintakan persetujuan dari keempat sultan "sponsor";

g.      dipustakakan (dibukukan)  dengan tanggung jawab Pangeran
Wangsakerta (pekerjaan inilah yang memakan waktu sampai 22
tahun lamanya).

4. Kata-kata pendabuluan

Dalam tiap naskah yang ditulisnya, Wangsakerta selalu mencan-tumkan uraian pendahuluan mengenai penyusunan naskahnya. Kadang-kadang secara panjang-lebar, kadang-kadang secara singkat. Supaya terdapat gambaran jelas tentang cara bagaimana ia bekerja di sini dikutipkan terjemahan dari "kata pendahuluan" Pustaka Kerajaan-kerajaan diNusantara parwa IV sarga 1.

Pada saat menyusun naskah ini, demikian pula pada waktu me-nyusun pustaka-pustaka lainnya, aku senantiasa menemukan kesuUtan-kesulitan yang menimbulkan beberapa kesukaran. Sebabnya ialah: ada beberapa mahakawi 4an menteri-menteri utusan yang beibeda dalam mengutaiakan sejarah negaranya masing-masing mengenai: kejayaannya, tahun pemerintahan raja-rajanya, tahun berdirinya sesuatu pemberontak-an, tahun wafat raja dan banyak hal lagi.

Demikian misalnya, mahakawi dari Jawa dengan mahakawi dari Sunda, lalu mahakawi dari Banten dengan mahakawi Mataram dan Cirebon, saling berbeda dan saling bertentangan dalam pembicaraan mengenai negaranya masing-masing. Begitu pula mahakawi dari Kudus dan Sumedang dengan mahakawi dari Cirebon dan PasaL Lalu mahakawi dari Sumatera dengan mahakawi dari Jawa Timur. Terjadi kericuhan yang hampir mencetuskan pertengkaran. Hampir-hampir tak ditemukan kisah sejarah yang sebenarnya (kathekang tatwa).

Pertentangan timbul pula antara mahakawi dari Jayakarta, Cirebon dan Banten dengan mahakawi dari Mataram. Demikian pula mahakawi dari Makasar berselisih faham dengan mahakawi dari Mataram, Madura dan Banten. Timbul pula pertentangan antara mahakawi, dari Kutai dengan utusan Palembang dan mahakawi dari Ukur.

Akan tetapi lebih berat lagi dalam sidang kelima kelompok para mahakawi dan menteri. Para peserta musyawarah saling memarahL Akhirnya timbul kericuhan. Hampir mereka berperangtanding {mad-wan-dwa yuddha) dalam ruang sidang, terutama dalam saat-saat permulaan penulisan naskah.

Adapun para mahakawi utusan dari negeri seberang dan negeri asing hanyalah hadir sebagai saksi. Namun mereka memberikan bermacam-macam catatan, termasuk beberapa surat dari Belanda yang ada di negara­nya.

Juru bicara hanya ada S orang yang harus mengutaiakan sejarah yang sesungguhnya. Namun di antara mereka ada yang menyampaikan pendapatnya secara berlebih-lebihan (wakrokti). Ada ceritera yang sesungguhnya tak pernah terjadi (niskarana) melainkan hanya hasil fikiran khayal (cittanungmaya) dan keliru (wiparita). Kisah bualan seperti itu tidak diambil dan tidak dijadikan catatan.

Ada yang melontarkan kata-kata menghina dan tidak layak sampai hampir menimbulkan kericuhan. Hanyalah karena aku telah cukup banyak mempelajari bermacam-macam pustaka tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara dan memiliki bermacam-macam pustaka tentang kerajaan-kerajaan akhirnya aku berhasil mengatasi mereka, dan juga karena aku menjadi ketua mereka dalam musyawarah ini.

Karena itu aku menempuh jalan tengah. Walaupun begitu aku senantiasa bermusyawarah dan berunding lebih dahulu dengan mereka terus-menerus; lebih-lebih dengan para sesepuh, mahakawi dan para duta kerajaan yang tinggi pengetahuannya (widyanipuna).

Dengan cara ini akhirnya mereka bersedia mengutarakan kisah sejarah yang sebenarnya, tidak lagi dibuat-buat. Tugas yang aku hadapi tidak sulit lagi. Di samping itu mereka telah sepakat untuk mengjkuti amanat Sultan Sepuh Cirebon. Mereka bersepakat sama-sama mengharap-kan hasil sempurna dari karya besar ini yaitu menyusun pustaka yang akan menjadi tuntunan pengetahuan sejarah (panghulu widya ning kath'd) terutama bagi semua penduduk dari segala lapisan dan lebih-lebih untuk pustaka pegangan bagi raja yang memerintah negara atau daerah.

Dalam beberapa hari aku berupaya sedapat-dapatnya. Akhirnya semua kesulitan dapat disingkirkan dan naskah yang kami susun dapat disetujui seutuhnya. Walaupun demikian, maafkanlah seandainya ter­dapat kekeliruan dalam penyusunan pustaka ini.

Lebih dahulu aku berdo'a kepada Hyang Tunggal Yang Mahakuasa, semoga selamat sentosa. Selamatkanlah kami dari perbuatan dosa dan mala petaka. Hilangkanlah segala perbuatan jahat dan bahaya perbuatan khianat yang akan merusak negara kami semua. Dan semoga berikanlah kesejahteraan kepada kami peserta musyawarah yang menyusun pustaka ini sebagai bahan pengetahuan bagi masa yang akan datang dan masa kini (natgata warttanana), terutama sebagai pengetahuan tentang raja-raja beserta:  kerajaannya,  agamanya, tanahnya dan masyarakat dalam ke-hidupan di Bumi Nusantara ini.

Pustaka ini hen dak ny a dijadikan tonggak utama segala kisah, dan kami sama sekali tidak menyimpang dari kisah yang sebenarnya karena hal itu merupakan hasil penelitian yang sungguh-sungguh mengenai kebenarannya, dan senantiasa akan berguna sebagai penuntun bagi ma­syarakat dari segala lapisan sejak saat ini sampai masa yang akan datang.

Itulah Wangsakerta yang juga bernama Abdul Kamil Mohamad Nasarudin. la menjadi panembahan Carbon pertama dan bergelar Panembahan Toh Pati atau Panembahan Ageng Gusti. Kita boleh berbangga mempunyai tokoh ini yang berkat prakarsa dan karyanya kita telah mewarisi "mutiara Jawa Barat" yang pernah hilang walau baru sebahagian. Apa yang dikemukakannya seolah-olah mendahului kira-kira dua abad teori-teori dan penemuan-penemuan para ahli sejarah profesional yang kemudian.

Penyusun tulisan ini memberanikan diri mengungkap dan memadukan isi naskahnya hanya karena hasrat untuk memenuhi amanatnya dan dengan demikian kita membalas budi atas jerih payah yang telah dicurahkannya selama puluhan tahun.

BAGIAN II SALAKANAGARA

1.               Purwayuga

2.       Pendatang dari Utara

3.               Sentuhan budaya dari India

4.               Kerajaan yang pertama

5.       Keturunan Dewawarman.


1. Pur way ug a

Witan sargakala niking bhumitala. Bhumitala pinakagni dumilah mwang uswa. Prayuta warca tumuli kukus peteng rat bhumandala canaih-canaih dhumaharawata sirna. Bhumi mahatis. Yadyastun mangkana tatan hana janggama. AtSher bhumandala nikang dadi prawata lawan sagara. Prayuta warca tumuli dadi ta sthawar&halit, atelier dadi tajanggamapra-kara satwa; ateher satwekang haneng sagara makadi mina mwang sarwwa mina. Ri huwus ika prayuta \yar9a tumuli sthawarekang nanawidha mwang ring samangkana dadi ta janggama satwa raksasanung nanawidha prakaranya; ateher sarwwa janggama satwa binturun mwang satwa lenya waneh kadi waraha, turangga mwang lenya manih.

Ateher prayuta war9a tumuluy dadi ta janggama prakara manusadhama lawan tatan purnna. Hana pwa purwwa janma purusa satwa, ateher lawasira mewu-iwu warga manih akrti saparwa satwa saparwa manusa. Lawas ri huwus ika dadi ta purusakara, ateher manusadhama mwang wekasan dadi ta purusa purnna.

(Awal masa penciptaan permukaan bumi ini. Permukaan bumi menye-rupai api yang bercahaya dan menyala. Berjuta-juta tahun kemudian asap gelap di seluruh muka bumi secara berangsur-angsur dan terus-menerus kese-luruhannya menghilang. Bumi menjadi dingin. Walau pun demikian belum ada makhluk hidup. Kemudian permukaan bumi ini menjadi gunung-gunung dan lautan.

Beberapa juta tahun kemudian muncullah tumbuh-tumbuhan kecil, lalu muncul makhluk hidup berupa he wan; kemudian hewan yang hidup di lautan seperti ikan dan sejenisnya. Setelah itu beberapajuta tahun kemudian muncul berjenis-jenis tumbuhan dan sementara itu muncul makhluk hewan raksasa yang beraneka macam jenisnya; kemudian bermacam-macam makhluk hewan unggas serta hewan lainnya seperti babi, kuda dan sebagainya.

Lalu berjuta-juta tahun kemudian muncullah makhluk hidup berwujud manusia tingkatan rendah dan belum sempurna. Mereka adalah manusia purba, manusia-hewan, yang seterusnya setelah beribu-ribu tahun kemudian berwujud separuh hewan separuh manusia. Lama setelah itu barulah muncul makhluk yang berupa manusia, lalu manusia tingkat rendah dan akhirnya muncullah jenis manusia sempurna).

Kisah di atas dikutip dari naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (pustaka tentang kerajaan-kerajaan di bumi Nusantara) parwa I sarga 1 halam-

an 20 — 22 yang ditulis oleh Pangeran Wangsakerta dan kawan-kawan di keraton kasepuhan Cirebon tahun 1677 Masehi. Buku yang terbuat dari bahan kulit kayu halus dengan tinta hitam itu menjelma menjadi sebuah karya-budaya Nusantara di Jawa Barat kira-kira satu abad sebelum immanuel Kant melontarkan teorinya tentang asal-usul planet bumi, atau kira-kira dua abad sebelum tokoh teori evolusi Inggeris, Charles Robert Darwin mencetus-kan teorinya dalam buku "On the Origin of Species" tahun 1859.

Pada halaman terakhir (224) dijelaskan bahwa naskah itu selesai ditulis dalam tahun Saka "nawa gapura marga raja eka quklapaksa (jrawanamasa" atau tahun 1599 Saka tanggal satu bagian terang bulan Srawana. Jadi kira-kira dalam bulan Juli tahun 1677 Masehi. Pangeran Wangsakerta adalah Panem-bahan Cirebon, putera bungsu Panembahan Girilaya atau keturunan Susuhun-an Jati Syarif Hidayatullah angkatan ke-5. Walau pun demikian berkat penge-tahuannya tentang sejarah dan naskan-naskah kuno, ia mampu menuliskan penanggalan menurut almanak Saka-Hindu. Naskah yang disusunnya pun ditulis dalam huruf dan Bahasa Jawa kuno. Seri Nusantara ini ada 5 parwa yang masing-masing terdiri atas 5 sarga (jilid) sehingga keseluruhan berjumlah 25 jilid. Jilid terakhir (parwa V sarga 5) khusus memuat judul-judul naskah yang pernah ditulis di keraton Cirebon yang mencapai jumlah 1753 judul. Seri khusus "babon sejarah" ada 47 jilid yang masa penulisannya keseluruhan berlangsung selama 21 tahun.

Para cendekiawan Nusantara abad ke-17 ternyata telah mengembangkan citra mereka tentang sejarah. Pangeran Wangsakerta bahkan dengan tegas memberi judul Nusantara bagi salah satu seri sejarah yang ditulisnya. Dalam pasal mengenai purwayuga (jaman kuno) ini penulis sengaja menampilkan kutipan (terjemahannya) dari karya besar yang telah dihasilkan oleh leluhur pendahulu kita untuk sekedar mengenai daya nalar yang dimiliki mereka. Dalam suasana kegelapan masa silam tanah air mungkin kita dapat menghibur diri dengan menyelami "dongeng" tentang penghuni-penghuni awal di Indo­nesia sambil menikmati seribu-satu pertanyaan yang mungkin timbul di dalam hati. Dongeng berikut dikutip daiiNusantara parwa I sarga 1 mulaihalaman 25.

Kira-kira sejuta tahun sampai 600.000 tahun yang silam di Nusantara, terutama di Pulau Jawa, waktu itu hidup tersebar manusia yang masih rendah pekertinya bersifat setengah-hewan. Ada juga yang menyebutnya manusia-hewan (satwapurusa) dari jaman purba karena mereka berlaku seperti se-tengah hewan. Di antaranya ada yang menyerupai kera, besar dan tinggi sosok tubuhnya, tanpa busana. Ada pula yang seperti raksasa, tubuhnya berbulu dan kejam perangainya. Jenis mereka ini hanya sedikit jumlahnya.

Ada jenis lain lagj di daerah hutan dan pegunungan yang lain. Mereka mirip kera. Ada yang tinggal di atas pohon, di lereng gunung dan di tepi sungai. Mereka berkelahi dan membunuh tanpa menggunakan senjata, hanya menggunakan tangan. Mereka tidak berpakaian dan tidak memiliki budi pekerti seperti manusia sekarang. Kesenangannya ialah berayun-ayun pada cabang pohon. Manusia-hewan ini terdapat di hutan Pulau Jawa, hutan Sumatera, hutan Makasar dan hutan Kalimantan (Bakulapura).

Di daerah lain lagi di Pulau Jawa, antara 750.000 sampai 300.000 tahun yang silam hidup manusia-hewan yang berjalan (tegak) seperti manusia. Kulitnya berwarna gelap, tingkah-lakunya baik dan lebih cerdas dibandingkan dengan manusia-hewan yang berjalan seperti hewan. Tiap hari mereka mem-buat senjata dari bahan tulang dan batu. Tetapi hasil karyanya tidak bagus. Mereka pun tidak lekas naik darah. Mereka selalu diserang oleh kelompok manusia-hewan yang menyerupai kera. Pertempuran di antara kedua kelom­pok itu selalu seru. Akan tetapi manusia-hewan yang berjalan tegak seperti manusia itu lebih mahir dalam teknik berkelahi sehingga pada akhirnya makhluk manusia-hewan yang berjalan seperti hewan itu habis terbunuh, tanpa sisa dan lenyap dari muka bumi. Manusia-hewan yang berjalan seperti manusia itu disebut juga manusia raksasa {bhutapurusa). Mereka tinggal dalam gua-gua di lereng gunung.

Manusia jenis ini akhirnya punah karena sejak 600.000 tahun yang silam, mereka banyak dibunuh oleh manusia pendatang dari benua utara. Mereka berasal dari Yawana lalu menyebar ke Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Jawa. Kira-kira 250.000 tahun yang silam manusia-hewan yang berjalan tegak seperti manusia itu habis binasa. laman ini oleh para mahakawi dinamai masa purba yang pertama (prathama punwayuga).

Pendatang baru ini adalah kelonpok manusia-sempurna (manusa purna). Mereka menyebar ke Sumatera, Jaw? dan pulau-pulau lain di bagian timur Nusantara.

Sementara itu antara 500.000 sampai 300.000 tahun yang lalu, di Suma­tera, Jawa Barat dan Jawa Tengah hidup manusia-yaksa (yaksapurusa) karena rupa mereka seperti yaksa atau danawa. Mereka bertubuh tegap dan tinggi serta senang meminum darah manusia sesamanya, darah musuh atau darah binatang. Perangainya kejam dan bertabiat seperti binatang buas. Mereka berkulit hitam dan berbulu banyak dan hidup tanpa busana. Makhluk jenis ini pun akhirnya punah karena banyak yang terbunuh dalam pertempuran dengan kaum pendatang baru dari benua utara.

Seterusnya, antara 300.000 sampai 50.000 tahun yang silam di Jawa Barat dan Jawa Tengah pernah hidup manusia berwujud setengah-yaksa

(manusa yaksamantare). Kelompok manusia ini belum diketahui asal-usulnya sebab hampir sama rupanya dengan manusia-yaksa yang telah punah. Tetapi mereka itu bertubuh lebih kecil, berwarna-kulit agak gelap, tidak banyak berbulu, lebih susila dan lebih cerdas dibandingkan dengan manusia-yaksa yang telah punah. Kelompok ini pun akhirnya punah karena didesak, diburu dan akhirnya mereka dibinasakan oleh kaum pendatang dari benua utara. Periode ini oleh para mahakawi disebut masa purba yang kedua (dwitiya purwwayugd).

Selanjutnya pernah pula hidup manusia kerdil (wamanapurusa) atau danawa kecil. Mereka itu berwujud yaksa-kecil sehingga oleh para mahakawi dinamakan manusia kerdil. Mereka hidup antara 50.000 sampai 25.000 tahun yang silam. Mereka tidak cerdas. Senjata dan perabotannya semua terbuat dari batu, tetapi buatannya tidak bagus. Makhluk jenis ini pun akhirnya punah. Jaman ini oleh para mahakawi disebut masa purba pertengahan (ma-dhya ningpurwwayugd) atau masa purba ketiga (tritiya purwwayugd).

Ke dalam jaman tersebut termasuk pula masa hidup jenis manusia-kerdil yang bertubuh besar (wamanapurusagong) atau manusia Jawa-purba Mereka menetap di Jawa Tengah dan Jawa Timur antara 40.000 sampai 20.000 tahun yang silam. Jumlahnya tidak banyak. Mereka ini pun akhirnya punah karena bencana alam, saling bunuh di antara sesamanya dan akhirnya, seperti juga nasib penghuni Pulau Jawa yang lain dihabisi oleh kaum pendatang dari benua utara.

Kaum pendatang ini berasal dari: Yawana, Campa, Syangka dan dari daerah-daerah sebelah timur Gaudi (Benggala). Mereka datang menyebar ke Ujung Mendini (Semenanjung Malaysia), Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Kuta-lingga, Gowa, Makasar dan pulau-pulau lain di belahan timur Nusantara ter­masuk Nusa Bali. Mereka tiba di sini kira-kira 20.000 tahun sebelum tarikh Saka

Manusia yaksa-kerdil sebagai peribumi di sini berperangai buas dan kejam seperti hewan. Oleh karena itu mereka diperangi dan dikalahkan oleh para pendatang baru. Sementara itu manusia purba yang hidup antara 25.000 — 10.000 tahun yang silam tidak punah karena mereka berbaur menjadi satu. Banyak wanita manusia purba itu yang berjodoh dengan pria dari kaum pen­datang baru. Kerukunan, kerja sama dan perjodohan di antara kedua belah pihak telah menyelamatkan kelompok manusia purba dari bahaya kepunahan.

Ada pun kaum pendatang baru dari benua utara ini tergolong manusia cerdas. Mereka membuat perkakas dan senjata dari batu, kayu, tulang, bambu serta bahan-bahan lain dengan hasil yang hampir bagus (meh wagus). Menurut para mahakawi masa kedatangan orang-orang dari benua utara ini disebut masa purba keempat (caturtha purwwayugd) atau jaman manusia purba.

Dari 10.000 tahun sebelum tarikh Saka sampai tahun, pertama Saka di­sebut masa purba kelima (pancama purwwayugd). Dalam masa ini ada bebe-rapa kelompok pendatang dari benua utara, yaitu :

pertama antara 10.000 sampai 5.000 tahun sebelum tarikh Saka; kedua antara 5.000 sampai 3.000 tahun sebelum tarikh Saka; ketiga antara 3.000 sampai 1.500 tahun sebelum tarikh Saka; keempat antara 1.500 sampai 1.000 tahun sebelum tarikh Saka; kelima antara 1.000 sampai 600 tahun sebelum tarikh Saka; keenam antara 600 sampai 300 tahun sebelum tarikh Saka; ketujuh antara 300 sampai 200 tahun sebelum tarikh Saka; kedelapan antara 200 sampai 100 tahun sebelum tarikh Saka; kesembilan antara 100 sampai awal tarikh Saka.

Sementara itu ada lagi kelompok yang datang dari benua utara tetapi berasal dari daerah lain. Mereka pun datang dalam beberapa gelombang, yaitu: tahun 10.000 sebelum Saka, 6.000 sebelum Saka, 4.000 sebelum Saka, 2.000 sebelum Saka dan tahun 300 sebelum Saka. Selanjutnya  antara tahun pertama Saka sampai masa pemerintahan Sultan Agung Mataram tahup 1555 Saka (= 1633 Masehi) oleh para mahakawi dinamakan masa kekuasaan raja-raja (yuga ning rajakawaqc) atau masa ke­enam (sastamayuga). Masa berikutnya disebut masa penderitaan {yuga ning duhkabhara) yaitu masa ketujuh {saptamayuga). Masa penderitaan karena pulau-pulau  di Bumi Nusantara kedatangan Sang Bule yang menyisihkan fanglindih) kerajaan-kerajaan di Bumi Nusantara, sedangkan penduduknya mengalami bermacam-macam penderitaan, hidup sengsara dan para, raja pun semuanya menderita".

Itulah saptayuga dengan segala kisah ringkas yang tercantum di dalamnya menurut naskah Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa I sarga ke-1 halaman 25-44. Pangeran Wangsakerta melihat ancaman yang akan muncul dengan kehadiran Belanda di Nusantara, dan kegagalan serangan Mataram terhadap benteng Batavia di muara Ciliwung dalam tahun 1633 dianggapnya sebagai batas kejayaan raja-raja Nusantara. la sendiri merasakannya sebab tanggal 7 Januari 1681 bersama kedua orang kakaknya dan 6 orang jaksa Cirebon, harus ikut menandatangani perjanjian antara Kumpeni Belanda dengan Cirebon.

2 Pendatang dari utara

Penelitian tentang asal-usul penduduk Indonesia mulai dilakukan secara sungguh-sungguh oleh Prof. Dr. Kern melalui Ilmu Bahasa dalam tahun 1889 dengan cara membandingkan 30 patah kata-benda (hewan dan tumbuhan di-tambah dua kata untuk besi dan kapal) yang terdapat dalam 113 bahasa daerali. Dari hasil penelitiannya ia kemudian berkesimpulaft bahwa tempat asal bangsa Melayu-Polinesia (termasuk di dalamnya Bangsa Indonesia) itu dahulu mungkin sekali daerah: Campa, Kochin-China, Kamboja dan daerah-daerah di sekitarnya sepanjang pantai.

Teori Kern tersebut kemudian ditunjang oleh hasil-hasil penemuan dan penelitian arkheologis karena artifak atau alat-alat dari batu dan logam peninggalam masa pra-sejarah yang ditemukan di wilayah barat kepulauan Indonesia, makin ke utara (artinya makin mendekati daratan Asia-Tenggara), makin kasar buatannya, atau memiliki model dan bahan yang sama.

Penelitian lebih lanjut oleh Prof. Slamet Mulyana melalui Ilmu Bahasa menghasilkan daerah asal nenek-moyang Bangsa Indonesia yang lebih luas dan lebih menyebar ke arah barat dari pada dugaan Kern. Ternyata wilayah Burma dan daerah bukit Asam di perbatasan India termasuk pula ke dalam lingkaran tempat asal nenek-moyang Bangsa Indonesia. Bagaimana mereka itu pergj meninggalkan tempat asalnya, menyebar lalu datang di Nusantara dan kemudian menetap beranak-pinak, telah diungkap secara rekonstruksi-teoritis berdasarkan logika keilmuan yang dimiliki para ahli masing-masing.

Tanpa mengesampingkan keaslian dan kebenaran-relatif karya-karya ilmiah para sarjana mengenai masalah ini, patutlah rasanya kita pun menge-tahui bahwa dua abad lebih sebelum Prof. Kern melakukan penelitiannya, masalah asal-usul nenek-moyang Bangsa Indonesia itu telah pula diketahui oleh para cendekiawan Jawa Barat dan Nusantara lainnya. Bagaimana mereka dapat mengetahui hal itu, belum jelas benar bagi kita. Namun kenyataan membuktikan bahwa kisah panigitan (perpindahan) leluhur bangsa kita dari tempat asalnya di daratan Asia Tenggara itu telah mampu mereka sajikan dengan agak terperinci. Inilah kisah yang disajikan oleh Pangeran Wangsa-kerta bersama kawan-kawannya.

"Orang-orang yang datang berturut-turut dari berbagai daerah itu masing-masing ada pemimpinnya. Di antara keturunannya ada yang saling berperang, lalu mereka yang telah lebih dahulu datang dan telah lama menetap dikalah-kan oleh kaum pendatang baru. Tetapi ada juga yang saling mengasihi dan saling membantu karena mereka mempunyai tujuan yang sama.

Makin lama penduduk ini makin meresap dan menyebar ke berbagai daerah di Nusantara. Ada pun yang menyebabkan kaum pendatang itu amat senang datang dan tinggal di sini adalah: pulau-pulau di bumi Nusantara ini subur tanahnya, subur tumbuh-tumbuhannya dan kehidupan penduduknya

bahagia. Serbaneka rempah-rempah ada di sini yang menjadikan kehidupan penduduk makmur dan sejahtera."

"Ada pun pakaian yang dikenakan peribumi di sini berupa cawat, kulit kayu, daun-daunan atau rumput. Mereka selalu membawa tombak, gada, busur dan panah serta berbagai jenis senjata lainnya. Mereka tinggal di hutan. Ada yang hidup berkelompok, ada yang selalu bersembunyi, ada yang me-misahkan diri, ada yang hidup bersama keluarganya.di lereng bukit.

Tiap kelompok yang hidup di salah satu kampung dipimpin oleh seorang penghulu sebagai penguasa kampung. Rumah sang penghulu selalu dijadikan-nya sebagai tempat bermusyawarah. Rumah sang pemimpin ini terhitung besar dan berpanggung (berkolong), sedangkan beberapa keluarga penduduk tinggal bersama dalam satu rumah di bawah pimpinan seorang kepala rumah-tangga yang sudah cukup berumur dan terpandang. Demikian pula halnya dengan sang penghulu. Ia adalah seorang yang sangat berwibawa. Di Jawa Barat ada beberapa penghulu peribumi semacam itu. Demikian pula di Jawa Tengah, Jawa Timur dan pulau-pulau lain di Nusantara. Keadaan itu terjadi sebelum awal tarikh Saka.

Beberapa ribu tahun sebelumnya tiada henti-hentinya kaum pendatang tiba di sini. Yang sudah lama tiba lalu menjadi peribumi. Tiba lagi pendatang baru lama-kelamaan menjadi peribumi lagi. Tiap kelompok berpisah-pisah karena mereka tiba di Pulau Jawa tidak sendiri-sendiri atau seorang demi seorang, melainkan beberapa puluh orang bergabung menjadi satu, dan tiap-tiap kelompok menuju ke pulau-pulau di Nusantara.

Daerah asal mereka itu berbeda-beda yaitu di sebelah timur India dan di sebelah barat-laut serta timur-laut Semenanjung. Ada yang dari negeri Syangka, Yawana, Campa, Benggala dan Saimwang. Sementara banyak orang-orang utara yang pergi ke daerah selatan, mereka yang telah lama menetap di Pulau Jawa pun ada yang pindah lagi ke timur dan ke barat.

Mereka datang di Nusantara dengan menumpang perahu dari kayu besar berbentuk rakit {getek); tetapi ada juga yang menaiki perahu dari betung besar atau kayu hutan. Di atas getek itu didirikan rumah dengan atap rumput. Mereka bertolak dari daerah asalnya dan siang-malam mereka ber-perahu menghilir sungai ke arah selatan menuju lautan. Tetapi ada juga yang tempat tinggal asalnya itu di tepi laut. Mereka singgah di beberapa pulau; lama mereka berada di tengah laut, dan akhirnya mereka tiba di Pulau Jawa. Banyak di antara perahu-perahu itu yang hancur di tengah laut karena dihan-tam ombak atau terseret angin besar sehingga perahunya terlunta-lunta dan terpisah dari kelompok perahu lainnya."

"Ada pun yang menyebabkan pengungusian besar (panigit agong) itu karena daerah tempat asalnya selalu kekeringan, terjadi bencana gempa bumi dan musim kemarau yang berkepanjangan sehingga mereka menderita ke-kurangan makanan dan terpaksa hidup di hutan memakan daun-daunan, tum-buhan, tunas dan daging hewan hasil buruan. Karena itulah mereka senan-tiasa ingin mencari tanah yang subur di pulau-pulau Nusantara. Satu di antara-nya adalah Nusa Jawa.

Setibanya di sini lalu mehetap dan hidup bersama-sama ibarat satu ke­luarga. Anak, cucu dan keluarga masing-masing membuat rumah. Berderet rumah mereka itu; ada yang kecil ada yang besar dan tinggi. Semuanya hidup rukun ibarat satu keluarga dan berkasih-kasihan. Untuk sementara makanan-nya sehari-hari adalah daging hasil berburu dari hutan. Lama-kelamaan tempat tinggal mereka itu menjadi kampung (dukuh). Pakaiannya sehari-hari terbuat dari kulit kayu.

Lama sebelum mereka tiba, di sini telah ada peribumi yang menetap. Mereka tiba di sini beberapa ratus tahun lebih dahulu. Banyak di antara pria kaum pendatang itu yang berjodoh dengan wanita peribumi, lalu beranak-pinak. Tetapi ada juga di antara peribumi itu yang menyerang kaum penda­tang. Mereka gugur dalam perang. Ada pula sebahagian yang melarikan diri, ada yang tetap di tempatnya, ada yang menjalin persahabatan dengan kaum pendatang baru. Tetapi mereka tak tertahankan karena jumlah kelompok pendatang baru itu terlalu banyak. Di samping itu kaum pendatang baru ini mahir dalam berbagai ilmu dan siasat berperang. Senjata mereka bagus dan lengkap."

"Ada pun kehidupan penduduk lama dan baru itu hampir sama seperti di negeri asal mereka. Makanan sehari-harinya adalah: daging, ikan, buah-buahan, tunas, daun-daunan, umbi-umbian dan rempah-rempah. Sang peng-hulu yang menjadi pemimpinnya menguasai berbagai ilmu dan mantera, selalu bertapa, melaksanakan sembahyang, melepaskan rakyatnya dari ancaman bencana sihir, memberi berkah, memimpin upacara perkawinan dan berdo'a, melindungi adat, bertindak adil dan bersikap lemah-lembut. Singkatnya, sang panghulu yaitu sang datu siang-malam selalu mengharapkan agar rakyat­nya hidup sejahtera dan kampung tempat tinggal mereka makmur dan sentosa di bumi ini."

"Yang dipuja penduduk waktu itu bermacam-macam, tetapi yang ter-utama ialah arwah leluhur. Mereka memohon kepada arwah yang dipujanya dengan do'a pujaan lengkap dengan tata upacara dan sembahyang serta sajen. Tujuannya adalah agar terkabul cita-citanya. Ada yang ingin terlepas dari kenistaan, ada yang ingin bertambah hasil   usaha tani atau dagangnya, ada

juga yang mengharap unggul dalam perang atau perkelahian; ada yang meng-harap terlepas dari penderitaan, lalu orang yang susah mengharapkan kese-jahteraan dan banyak harta, ada pula pria yang ingin mendapat isteri atau wanita yang mengharapkan suami. Ada lagi yang mengharapkan kegagahan, yang ingin mengalahkan musuhnya, yang mengharapkan berumur panjang dan terluput dari bahaya dan macam-macam harapan lagi.

Serbaneka pemujaan mereka adalah: Api, gunung, arwah leluhur, lautan, batu, pohon besar, kayu, darah, sungai, matahari, bulan dan bintang. Ada pemuja roh yang bersemayam di puncak gunung karena dianggap rohpenguasa isi gunung di seluruh dunia. Ada pula yang memuja pohon beringin dan pohon rimbun."

"Ada beberapa keluarga yang memasuki hutan dengan membawa harta-bendanya, lalu menetap di sana. Mereka berburu hewan, lalu kulitnya dijadi-kan bahan pakaian sedangkan dagingnya dijadikan bahan makanan. Pakaian kulit itu ada yang diberi lukisan menurut kehendak masing-masing, sedangkan batu-batuan dan tulang dijadikannya perhiasan untuk anak-isterinya. Juga batu dan tulang dijadikan berbagai macam perkakas.

Akan tetapi pendatang baru makin lama makin banyak sehingga orang peribumi terdesak dan hidup terlunta-lunta memasuki hutan dan pegunung-an. Terjadilah pengungsian besar-besaran karena kaum pendatang baru itu senantiasa memberikan kesusahan, kesengsaraan dan kenistaan kepada orang peribumi seolah-olah mereka itu hamba-sahaya kaum pendatang baru. Kaum peribumi itu merasa terhina dan sangat takut karena siapa pun di antara mereka yang berani melawan akan ditangkap dan dibunuh. Kaum peribumi itu selalu kalah karena bodoh dan dalam segala hal mereka itu terbelakang.

Sebaliknya kaum pendatang baru memiliki berbagai ilmu pengetahuan yaitu: membuat panah dan perkakas dari besi, telah mengenal emas, perak, manik, permata, menguasai ilmu pembuatan panah (wedastra) dan ilmu panah-memanah (dhanurweda), membuat aneka macam obat-obatan, mem­buat perahu yang baik; mereka itu pun telah menanam padi uiituk keperluan makan sehari-hari. mereka mengetahui pula ilmu perbintangan (panakqatra), membuat pakaian dan perhiasan yang indah dan bagus karena dihiasi ukiran, membuat wayang dari kulit yang diukir. Mereka pun telah mampu mendiri-kan rumah besar untuk seluruh keluarga, membuat api dengan batu-api dan besi, kemudian mampu pula membuat tabuh-tabuhan untuk mengiringj tari.

Di samping itu mereka telah menyusun peraturan tentang kampung dan uang, memiliki pengetahuan tentang gerhana, gempa bumi, ukuran, makanan, hari, tumbuhan, musim hujan, musim kemarau, ilmu tentang lautan, tentang hewan, tentang tanah, tentang gunung, tentang ucapan, lalu ilmu tentang  rempah-rempah, hutan dan gunung, ekonomi (swasthaning janapada) dan sebagainya."

"Kaum pendatang dari negeri Yawana dan Syangka yang termasuk ke dalam kelompok manusia purba-tengahan (jantna purwwamadhya) tiba kira-kira tahun 1.600 sebelum Saka. Kaum pendatang baru yang tiba di Pulau Jawa antara tahun 300 sampai 100 sebelum Saka telah memiliki ilmu yang tinggi (widyanipuna). Mereka telah mengetahui cara memperdagangkan serbaneka barang. Kaum pendatang kelompok ini menyebar ke pulau-pulau di Nusantara.

Jaman ini oleh para mahakawi disebut jaman besi (wesiyuga) karena mereka telah mampu membuat berbagai macam barang dan senjata dari besi serta telah mengenal penggunaan emas dan perak. Mereka merasuk ke desa-desa yang dikunjunginya seolah-olah Pulau Jawa dan pulau-pulau di Nusanta­ra ini kepunyaan mereka semuanya. Peribumi yang tidak mau menurut akan ditundukkannya. Demikian pula orang peribumi yang menyerang atau meng-hadangnya segera dikalahkan sehingga bukan saja maksudnya tidak berke-sampaian, mereka pun harus menjadi orang bawahan yang tunduk kepada orang yang berkuasa.

Antara tahun 100 sebelum Saka sampai awal tahun Saka masih banyak kaum pendatang yang tiba di Nusantara dari negeri-negeri sebelah timur India yang juga telah memiliki pengetahuan yang tinggi."

Demikianlah cupUkan dari naskah yang dituUs di keraton Sultan Sepuh Cirebon dalam tahun 1677 M. Kita boleh bertanya-tanya tentang "kebenar-an" isinya sebab bagian yang diutarakannya justeru mengenai bahagian yang kita pandang masih gelap. Namun yang penting dalam hal ini ialah kenyataan bahwa orang Indonesia telah mengetahui salah satu segi sejarah Bangsa Indo­nesia kira-kira dua abad sebelum hal itu diketahui oleh para sarjana Barat. Rasa-rasanya kalau saja Prof. Kern dan Von Heine Geldern sempat berbuat iseng menuUs ceritera fiksi untuk memperjelas teori mereka, dapat diramal-kan bahwa garis besar tuturannya tidak akan terlalu jauh dari cuplikan di atas.

3 Sentuhan Budaya dari India

Dalam tahun 1820-an, seorang Inggeris bernama Earl pernah melontarkan dua buah nama yang dianggapnya layak diberikan kepada kepulauan yang terletak di antara benua Asia dengan benua AustraUa yaitu: "Hindunesian" dan "Malaynesian". Nama pertama diusulkannya berdasarkan kenyataan kuatnya unsur kebudayaan Hinduistis yang tampak di Pulau Jawa yang pernah dikuasai oleh Inggeris. Nama kedua diusulkannya berdasarkan nama Bahasa Melayu yang menjadi bahasa pergaulan antar-pulau di kawasan ini.

Logan, seorang Inggeris lainnya, mendukung gagasan itu dalam tahun 1830. Logan sendiri cenderung memilih nama "Malaynesian". Akan tetapi kedua nama tersebut tidak pernah meluas di kalangan umum. Kelanjutannya baru terjadi tahun 1878 ketika seorang ahli etnologi Jerman bernama Adolf Bastian menggunakan kembali nama "Hindunesian" dalam bentuk "Indone-sien". Sejak itulah sebutan INDONESIA yang sebenarnya berarti "kepulauan Hindu" mulai populer di kalangan para ahli Ilmu Bangsa-bangsa dalam pe-ngertian wilayah kebudayaan. Ke dalamnya termasuk Pulau Malagasi (Mada-gaskar), Taiwan dan kepulauan Philipina.

Sementara itu di tanah air kita masih tetap dikenal istilah: India Depan untuk India, India Belakang (untuk Indo-China), India Timur (untuk Indo­nesia) dan India Barat untuk kepulauan jajahan Belanda di kawasan Laut Karibia. Baru kemudian dalam masa pergerakan nasional nama Indonesia diberi pengertian politik dan dijadikan lambang perjuangan tanpa memper-hatikan lagi asal-usul dan arti katanya. Nama 'Malaynesian" sekarang diguna-kan oleh Malaysia.

Dari segi sejarah kita melihat bahwa unsur kebudayaan Hindu atau India-lah yang menjadi sumber awal kelahiran nama Indonesia. Hubungan budaya sekuat itu tentu bersumber kepada hubungan sejarah yang terletak jauh pada masa lampau. Tanah air dan bangsa kita pernah menerima dan mengalami sentuhan budaya dari India. Yang dipersoalkan oleh para ahli hanyalah: dengan cara bagaimana sentuhan itu terjadi?

Jawabannya tentu bermacam-macam tergantung dari pandangan mereka masing-masing sebagai ilmuwan bahkan kadang-kadang tampak juga pengaruh kepentingan bangsa yang diwakilinya. Soalnya, penafsiran macam apa pun dalam sejarah adalah sah selama hal itu tidak menyangkut penggelapan atau pemalsuan data sejarah yang digunakan sebagai sumber.

Dalam proses sentuhan budaya yang berlangsung cukup lama dan imbas budaya yang dihasilkannya menjalar merasuki sendi-sendi kehidupan Bangsa Indonesia itu bermacam-macamlah tokoh pemegang peran utama yang di-tampilkan para ahli di atas pentas sejarah yang direkonstruksikannya. Ada yang menampilkan kelompok kesateria penakluk, ada yang menampilkan kelompok brahmana atau pendeta kelana, ada yang menampilkan kelompok pedagang yang aktif menularkan agama anutannya kepada relasi mereka di tanah seberang, ada pula yang mempertemukan raja-raja Indonesia dengan para pendeta India lewat undangan yang disampaikan dengan perantaraan kaum saudagar langganannya. Bahkan Prof. Poerbatjaraka dalam bukunya Kepustakaan Jawa berbicara tentang "sinyo-sinyo" dan "noni-noni" Hindu yang lahir dari perkawinan antara pria India dengan wanita Indonesia.

Namun di belakang layar pentas yang tampaknya simpang-siur itu ter-dapat dua hal yang pada dasarnya disepakati oleh para ahli. Pertama, jejak kebudayaan hinduistis yang terdapat di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, menunjukkan karakter "selera" tinggi yang di India pun hanya dimiliki oleh kelompok brahmana. Kedua, sentuhan budaya yang menjalarkan arus hindui-sasi itu terjadi di sepanjang jalur perdagangan internasional yang terjalin waktu itu.

Jadi, hubungan daganglah yang menjembatani peristiwa sentuhan budaya itu yang dalam hal ini tidak berarti para pedagang menjadi pelaku utamanya. Kisah pendeta Buda, Fa Hien (414 M) menunjukkan bahwa ia pun menum-pang kapal dagang waktu pulang ke tanah airnya dari India. Ia berganti kapal dan bertolak menuju negeri Cina dari salah satu pelabuhan di Jawa Barat.*)

Van Leur dalam bukunya Indonesian Trade and Society mengemukakan bahwa lembaga-lembaga perdagangan waktu itu bersifat commenda. Di satu pihak terdapat pemilik barang yang pada umumnya terdiri atas para penguasa dan pembesar pelabuhan; di pihak lain terdapat para pedagang yang bertin-dak sebagai penjaja ("padler"). Mereka menjajakan dagangan milik commenda secara berantai dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya dengan menumpang kapal dagang. Tiap pedagang hanya membawa barang sebanyak yang dapat diangkut dan diawasinya sendiri sehingga jenisnya harus dipilih yang berukur-an kecil, laku keras di pasaran yang ditujunya dan berharga tinggi.

Di perairan Nusantara arus perdagangan ini bergerak mengikuti pola angin musim yang tiap 6 bulan berganti arah. Di pelabuhan tujuan para pe­dagang itu melakukan transaksi dengan para pedagang langganannya yang juga pada umumnya mewakili kepentingan para penguasa dan pembesar setempat atau saudagar besar kerabat mereka.

Situasi perdagangan waktu itu diuraikan secara lebih terperinci lagj oleh Wolters dalam bukunya Early Indonesian Commerce. Ia lebih mengkhusus-kan sasaran dengan menimba informasi dari sumber-sumber Cina. Namun

*) Fa Hien sebenarnya hanya menyebut "Ya-wa-di' yang sama maksudnya dengan "Yawadwipa" dalam B. Sangsakerta atau 'Yawadiwu" dalam B. Prakrit. Tetapi bila kapal yang ditumpanginya dapat berlayar terus-menerus ke arah timur laut selama sebulan lebih, dan akhirnya sampai di pantai Shantung tanpa menabrak Kalimantan, hal itu hanya mungkin dilakukan dari pelabuhan Jawa Barat.

demikian, baik Wolters mau pun Van Leur hanya dapat mengungkap peran kapal dagang sebagai sarana angkutan yang digunakan oleh para pendeta dari India yang pergi menunaikan tugas misinya menyebarkan agama mereka ke dunia timur. Bagaimana kisah sentuhan budaya itu berlangsung pada awal-nya hanya terjaring secara tak langsung. Hanya teori yang mencurahkan anggapan bahwa perdagangan meningkatkan kemakmuran dan keterbukaan pandangan para penguasa di Nusantara sehingga akhirnya mereka merasa perlu menghadirkan para cendekiawan Hindu, yang sempat dituangkannya.

Kisah awal hinduisasi itu tetap kabur karena sumber otentik yang meng-ungkapkan hal itu memang tak ada. Poerbatjaraka dalam desertasinya^gasfya in den Archipel (1921) mengemukakan pula bahwa lakon wayang yang rriengisahkan kepergian Bambang Kumbayana dari negeri Atas-angin ke Nusa Jawa sebenarnya berkaitan erat dengan masa awal sentuhan budaya Hindu di Nusantara. Menurut legenda yang dikenal di India Selatan dan di Bali, penye-baran agama Hindu di daerah-daerah seberang (di luar India) dilakukan oleh Maharesi Agastya alias Resi Kumbayoni. Tangan kiri sosok wayang Kumbayana yang kaku itu adalah tiruan dari tangan kiri patung Agastya yang selalu menating kendi tempat air suci. Begitu pula halnya bentuk janggut wayang Kumbayana yang lancip meniru bentuk janggut patung Agastya. Pada wayang Kumbayana kendi itu dihilangkan untuk keleluasaan gerak.

Dalam kekosongan yang menghampakan fantasi itulah menurut hemat penyusun ada baiknya kita berkaca pada pandangan atau sebutkan saja fan­tasi para cendekiawan kita dari abad ke-17 yang telah berupaya menimba dan merumuskan ceritera masa silam dari sumber-sumber yang telah diwariskan oleh para leluhurnya.

Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara mengisahkan proses hinduisasi penduduk Nusantara itu sebagai berikut:

"Dalam awal tarikh Saka datang orang-orang dari barat, yaitu: dari negeri Singa (Sri Langka), Salihwahana dan Benggala di bumi Bharatawarqa (India). Mereka tiba di Pulau Jawa dengan perahu. Mula-mula mereka menuju ke Jawa Timur, lalu ke Jawa Barat karena kegiatan perdagangannya dengan penduduk di sirti. Peribumi di sini asal-usulnya juga orang-orang pendatang dari kawasan benua utara yang leluhurnya tiba di sini beberapa ratus tahun lebih dahulu.

Barang-barang yang dibawa oleh para pendatang baru ini di antaranya:
bahan pakaian, perhiasan yaitu: ratna, emas, perak, permata, mustika, obat-
obatan, bahan makanan serta perabot kebutuhan rumah-tangga. Ada pun
bahan-bahan yang dibelinya di sini yaitu: rempah-rempah, hasil bumi seperti
beras, sayuran dan sebagainya. "Di antara mereka itu ada yang terus menetap di sini menjadi penduduk  jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa Bali. Demikian pula di Sumatera, Kalimantan dan lain-lain di pulau-pulau bumi Nusantara yang disebut juga Dwipantara. Karena penduduk Pulau Jawa telah menguasai ber­bagai ilmu, mereka sangat menghargainya, tidak bermusuhan dan kaum pendatang baru itu diterima sebagai tamu dengan penuh rasa kasih dan rasa persaudaraan.

Kehidupan penduduk di sini makmur. Mereka menamakan pulau-pulau di bumi Dwipantara ini, terutama Pulau Jawa, laksana surga di muka bumi. Oleh karena itu mereka selalu merasa bahagia hidupnya. Demikianlah keadaan mereka itu selama tinggal di sini. Banyak di antara mereka memperisteri gadis di sini, kemudian beranak-pinak. Mereka mengetahui bahwa Pulau Jawa subur tanahnya subur tumbuh-tumbuhannya.

Oleh karena itu beberapa tahun kemudian datanglah orang-orang dari Langkasuka, Saimwang dan Ujung Mendini (Semananjung) ke Jawa Barat dan bumi Sumatera dengan perahu. Lalu mereka menetap di situ karena berjodoh dengan puteri penduduknya. Seterusnya mereka tidak kembali ke negeri asaln> a. Sementara itu mereka masing-masing mendirikan rumah besar untuk tempat tinggal keluarganya. Rumah itu diberi kaki maka disebut rumah panggung. Kolong rumah itu digunakan untuk kandang tempat hewan pe-liharaan mereka.

Mereka itu bergabung untuk bergotong-royong (samakarya) membangun rumah, menebang pohon di hutan. Dcut pula bergabung ahli pembuat rumah (hundagi) dan pandai besi."

"Para pendatang dari India itu ada juga yang mengajarkan agama yang dianutnya dan menyiarkannya kepada penduduk di desa-desa. Mereka meng­ajarkan pujaannya yang disebut Dewa Iswara yaitu: Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa yang disebut Trimy££j£y?ara. Juga masih banyak dewa lain yang dipujanya selain itu. Walau pun demiJaan mereka tidak saling bertentangan dalam menyebarkan agamanya karena mereka berhasil me-nemukan cara yang tepat.   .

Penduduk di sini keturunan kaum pendatang juga. Sejak dahulu mereka memuja roh, api, bulan, mata hari dan sebagainya. Singkatnya mereka itu memuja serba-roh. Kaum pendatang baru dari India Selatan itu telah menguasai berbagai ilmu karena mereka telah mempelajarinya di negeri asalnya. Mereka . tidak menghalangi pemujaan yang dianut penduduk di sini. Hanya nama pujaannya yang diganti, disesuaikan dengan adat penduduk di sini.

Dengan cara demikian mereka tidak menemui kesulitan untuk mem-11 pelajarinya. Demikianlah pemujaan api disamakan dengan pemujaan Dewa Agni, pemujaan matahari disamakan dengan pemujaan Dewa Aditya atau Dewa Surya dan seterusnya. Ada pun pemujaan roh-besar disamakan dengan pemujaan Hyang Wisnu, Hyang Siwa dan Hyang Brahma yang disebut pemuja­an tiga-dewa atau trimurti. Tak lama kemudian banyaklah penduduk di sini yang memeluk agama baru itu."

"Sementara itu banyak di antara para pendatang yang menikahi puteri para penghulu penduduk desa. Kelak anaknya akan menggantikan kedudukan kakeknya. Oleh karena itu desa-desa di Pulau Jawa makin lama makin dikuasai oleh keturunan kaum pendatang. Demikian pula penduduk dan kekayaannya. Segera pula penduduk menjadi tidak berdaya. Penghulu desa itu telah di-junjungnya menjadi sang penguasa. Putera pendatang baru atau cucu sang penghulu menjadikan semua tanah sebagai miliknya atau berada di bawah kekuasaannya.

Sementara itu keadaan desa-desa tetap makmur dan hasil pertanian me-limpah karena Pulau Jawa subur tanahnya. Demikian pula pulau-pulau lain di Dwipantara. Oleh karena itu antara tahun 80 sampai 320 Saka sangat banyak perahu yang datang dari berbagai negeri ke Pulau Jawa, di antaranya dari: negeri India, Cina, Benggala dan Campa. Banyak di antara mereka itu yang menetap di sini. Banyak pula di antara mereka itu yang membawa anak-isteri beserta sanak-keluarganya; terus menetap di Pulau Jawa dan pulau-pulau lain di Nusantara dan menjadi penduduk di sini."

"Ada yang datang membawa perahu besar, ada yang datang beserta pendeta agama Wisnu dan agama lainnya. Setiba di sini lalu mengajarkan agama mereka kepada penduduk desa. Kemudian mereka pun tinggal di situ. Ada pun pendeta agama Siwa datang di Jawa Timur dan Jawa Tengah meng­ajarkan agama mereka kepada para penghulu dan pemuka masyarakat di sana."

"Demikianlah di antara mereka yang datang di Pulau Jawa itu ada yang berniaga, menyiarkan agama, ada pula yang menyelamatkan diri dari bahaya serangan musuh dan huru-hara di negaranya yang menimbulkan pengungsian besar-besaran ke pulau-pulau di bumi Nusantara.

Kebanyakan di antara pendatang itu berasal dari keluarga Calankayana dan Palawa di bumi India. Dari dua keluarga inilah yang paling banyak datang membawa perahu besar-kecil di bawah pimpinan Dewawarman dari keluarga Palawa. Mereka itu datang di Jawa Barat pertama kali untuk tujuan ber-dagang. Selanjutnya mereka selalu datang di sini dan kembali ke negerinya membawa rempah-rempah.


Di sini Sang Dewawarman telah bersahabat dengan penduduk pesisir Jawa Barat, Nusa Api (Krakatau) dan pesisir selatan Pulau Sumatera. Dalam hal ini Dewawarman pun bertindak sebagai duta maharaja Palawa."

"Ada pun sang penghulu atau penguasa daerah pesisir barat Jawa Barat waktu itu bernama Aki Tirem alias Aki Luhur Mulya. Puterinya yang ber-nama Pohaci Larasati diperisteri oleh Sang Dewawarman. Tokoh ini oleh para mahakawi disebut Dewawarman Pertama.

Aki Tirem adalah putera Ki Srengga. Ki Srengga putera Nyi Sariti. Nyi Sariti puteri Aki Bajul Pakel. Aki Bajul Pakel putera Aki Bungkul yang ber-asal dari Sumatera bagian selatan yang pindah ke pesisir barat Jawa Barat. Ki Bungkul putera Ki Pawang Sawer yang tinggal di Sumatera bagian selatan. Aki Pawang Sawer putera Datuk Pawang Marga. Datuk Pawang Marga putera Ki Bagang yang menetap di Sumatera bagian utara. Ki Bagang putera Ki Datuk Waling yang tinggal di Ujung Mendini (Semenanjung). Datuk Banda putera Nesan yang tinggal di daerah Langkasuka. Leluhur Ki Nesan berasal dari Yawana bagian barat."

* Demikianlah kisan ringkas sentuhan budaya Hindu di Jawa Barat me-nurut Pangeran Wangsakerta dan kawan-kawan. Dengan tokoh Dewawarman menantu Aki Tirem sejarah Jawa Barat memasuki masa kerajaan karena konsep kerajaan yang kemudian berkembang di kawasan ini bersumber kepada tradisi India.

3 Kerajaan Yang pertama

la Ten tang kerajaan pertama di kawasan Jawa Barat boleh dikatakan bahwa [■ kehadirannya selalu "timbul-tenggelam" dalam pandangan para ahli sejarah. II Bermula dari sebuah berita Cina dari jaman keluarga (dinasti) Han yang lm memberitakan bahwa "raja Yeh-tiao bernama Tiao-pien mengirimkan utusan IMke Cina dalam tahun 132 Maseru", Pulau Jawa khususnya Jawa Barat mulai

I ■ memasuki lingkaran sejarah abad kedua Masehi. Ye-tiao diduga sama dengan

I1  Yawadwipa atau Yabadiu, dan nama Tiao-pien diduga sama dengan Dewa warm an.

Sasaran mengarah ke Jawa Barat karena berita itu dihubungkan pula dengan tulisan seorang ahli Ilmu Bumi Mesir bernama Claudius Ptolemeus dalam bukunya Geographia yang ditulis kira-kira tahun 150 M. Berdasarkan
berita yang dapat disadapnya dari saudagar-saudagar Arab yang biasa berdagang ke India, ia memberitakan bahwa di dunia timur terdapat Iabadiou yang subur dan banyak menghasilkan emas. Di ujung barat Iabadiou terletak (kota) Argyre. Iabadioeu dapat dicapai setelah melalui 5 pulau Barousai
danpulau Sabadibai.                                                                                     

Bila kedua berita dari Cina dan Ptolemeus ini digabungkan, dengan sen-dirinya orang cenderung menduga bahwa hal itu menyangkut sebuah kerajaan di Jawa Barat. Akan tetapi bukti-bukti kesejarahan yang "sah" yang dapat memperjelas kedua berita itu sampai sekarang belum ditemukan. Letak Ye-tiao atau Iabadiou pun digeser-geserkan dan dipindah-pindah di atas peta oleh para cendekiawan sejarah sesuai dengan penafsiran mereka masing-masing. Ir. Moens mengungkapkan bahwa Argyre = Ligor di tanah genting Kra walau pun Ptolemeus menegaskan bahwa Argyre terletak pada 8°50' lintang Selatan. Memang melampaui batas selatan Jawa Barat, akan tetapi kekurangan-tepatan Ptolemeus itu wajar karena ia memperoleh berita dari "tangan kedua". Moens memindahkannya ke Ligor yang terletak kira-kira pada 10° Lintang Utara.

Beberapa ahli sejarah Bangsa Indonesia pun akhirnya setuju "memindah-kan" Argyre dengan Iabadiou itu ke daerah Tanah Genting Kra. ) Memang sulit karena bukti otentik yang mampu menunjang lokasi kedua nama itu secara tepat sampai sekarang belum ditemukan.

Wolters dalam bukunya Early Indonesian Commerce menegaskan bahwa lukisan ten tang letak Argyre dalam Geographia Ptolemeus itu sama dengan lukisan berita Cina tentang Ko-ying. Ia sangat cenderung berkesimpulan bahwa Argyre = Koying. Namun ia "terpaksa" menempatkan Ko-ying di bagian tenggara Sumatera karena terikat oleh dua buah syarat. Pertama di sebelah utara Ko-ying dalam berita yang dikutipnya disebutkan ada sebuah gunung api. Kedua, disebutkan pula bahwa di sebelah selatan Ko-ying ter­dapat sebuah teluk bernama Wen dan di teluk ini terdapat sebuah Chou (pulau atau daerah pesisir) bernama Pu-lei.

Dalam peta yang dilampirkannya, Wolters memang menempatkan Ko-ying pada bagian tenggara Sumatera. Akan tetapi dalam catatan di bawanya ia menambahkan keterangan bahwa letak Ko-ying belum dapat dipastikan, bahkan boleh jadi ("may even have been") terletak di Jawa Barat. Ia ber-buat demikian berdasarkan peta yang digunakannnya menampilkan Gunung Merapi dan Gunung Dempo di sekitar tempat yang disinyalirnya mungkin pernah menjadi lokasi Ko-ying berdasarkan berita Cina. Namun dalam hal ini pun ia masih memberikan catatan (No. 53 Chapter 3) bahwa dalam kesimpulannya meletakkan Ko-ying di bagian tenggara Sumatera itu, ia tidak mampu membebaskan dirinya dari dugaan bahwa mungkin menurut ke-nyataannya ("may in fact") Ko-ying itu terletak di  sesuatu tempat di Ka­wasan Jawa Barat.)

    Di antaranya: Dra. Satyawati Sulaeman (Sejarah Indonesia, Kursus B. I) dan War-sito Sastroprajitno (Rekonstiuksi Sejarah Indonesia I).


Sehubungan dengan dugaannya yang kuat itu, rupa-rupanya Wolters pun kurang memperhitungkan kehadiran Gunung Krakatau yang sebelum meletus (1883), tentu merupakan sebuah pulau vulkanik yang utuh sehingga dalam abad ke-17 orang Jawa Barat masih menyebutnya Nusa Api (apuynusa). Seandainya ia mengambil pantai barat Pandeglang untuk meletakkan Argyre yang diyakininya benar-benar sama dengan Ko-ying itu, Wolters masih akan menemukan kondisi yang serupa: Gunung Krakatau di sebelah utara (barat-laut) dan Teluk Ujung Kulon di sebelah selatan lokasi yang mungkin di-tunjuknya. Tinggallah ia memilih pulau atau daerah pesisir yang mungkin memenuhi lokasi Pu-lei. Di samping itu rasa penasaran yang terus menggoda-nya dapat dihapus sebab selain ia masih sanggup memenuhi tuntutan lokasi Ko-ying menurut berita Cina, ia pun dapat memenuhi lokasi Argyre yang menurut Ptolemeu^ terletak di ujung barat Iabadiou.

Nama Dewawarman yang pernah dihubungkan dengan catatan dinasti Han dari tahun 132 M itu telah lebih dahulu menghilang dari perbincangan ahli sejarah sebab kehadirannya terlalu samar dan meragukan. Ditemukannya patung Ganesa dan patung Siwa dengan tanda ardacandra (bulan sabit) di dahinya di Panaitan tidak menolong keadaan, bahkan ada yang menduga bahwa patung-patung itu berasal dari abad ke-7 Masehi.

Untuk sementara ini Dewawarman, Iabadiou dengan Argyrenya "tidak jadi" dimukimkan di Jawa Barat. Semuanya telah dipindahkan ke Ligor di tanah gen ting Kra sebagai penghias sejarah negeri Ratu Sirikit. Mungkin tetap berkubur di situ, mungkin kapan-kapan akan dipindahkan lagi. Hal itu kita serahkan kepada para ahli sejarah.

Sambil menanti berita perkembangan lebih lanjut tentang kisah yang masih membuka peluang lebar bagi berbagai kemungkinan itu, sebaiknya kita menyantaikan diri dengan mengikuti penuturan Pangeran Wangsakerta yang menurut beliau sendiri diperuntukkan bagi mereka yang ingin mengetahui kathekang tatwa (ceritera yang sesungguhnya).

Telah diungkapkan di muka bahwa Aki Tirem penghulu desa di pantai barat Jawa Barat menjodohkan puterinya dengan Dewawarman. Ibu Aki Tirem adalah seorang wanita berasal dari Jawa Timur, sedangkan Dewa­warman adalah pemimpin kelompok kaum pedagang dari India Selatan. Inilah kisah selanjutnya.

"Dewawarman beserta pengikutnya selalu berkeliling melindungi pen-duduk karena kampung-kampung di sepanjang pesisir itu sering didatangi bajak laut dan perompak. Ketika tak lama kemudian perahu perompak datang di tempat itu dan berlabuh di tepi pantai, mereka tidak melihat bahwa dirinya telah dikepung oleh pasukan Sang Dewawarman yang bersembunyi dan memencar dengan senjata siap di tangan. Dewawarman beserta pasukannya dan pasukan ^ki Tirem segera membuka serangan tanpa memberikan ke-sempatan kepada para perompak itu untuk mempersiapkan diri. Sangat seru pertempuran yang te rj adi.

Akhirnya gerombolan perompak itu dapat dikalahkan. Dewawarman dan I pasukannya unggul dalam pertempuran. Perompak yang mati ada 37 orang dan sisanya yang tertawan ada 22 orang. Anggota pasukan Dewawarman yang tewas ada dua orang, sedangkan anggota pasukan Aki Tirem tewas 5 orang. Semua perompak yang ditawan akhirnya mati digantung. Aki Tirem mem-peroleh perahu rampasan lengkap dengan barang-barang, senjata dan persedia- ^ an makanannya.

Lalu sang panghulu mengadakan pesta kemenangan. Sangat meriah pesta itu karena dimeriahkan dengan bunyi gamelan yang merdu mengiringi tarian beberapa penari yang mahir. Isteri Sang Dewawarman tiba diiringi beberapa dayang, lalu duduk bersanding dengan suaminya. Anggota, pasukan Sang Dewawarman yang mengikuti pesta banyak yang terpesona oleh para penari, dayang dan gadis-gadis peribumi yang dilihatnya.

Akhirnya semua anggota pasukan Dewawarman menikah dengan wanita peribumi. Oleh karena itu Dewawarman beserta pasukannya tidak ingin kem-bali ke negerinya. Mereka menetap dan menjadi penduduk di situ. Lalu beranak-pinak."

"Beberapa tahun sebelumnya, Sang Dewawarman menjadi duta keliling negaranya untuk negara-negara lain yang bersahabat seperti: kerajaan-kerajaan di Ujung Mendini, Bumi Sopala, Yawana, Syangka, Cina dan Abasid (Mesopo­tamia), dengan tujuan mempererat persahabatan dan berniaga hasil bumi serta barang-barang lainnya."

"Tatkala Aki Tirem sakit, sebelum meninggal ia menyerahkan kekuasa-annya kepada sang menantu. Dewawarman tidak menolak diserahi kekuasaan atas daerah itu, sedangkan semua penduduk menerimanya dengan senang hati. Demikian pula para pengjkut Dewawarman karena mereka telah menjadi penduduk di situ, lagi pula banyak di antara mereka yang telah mempunyai anak.

Setelah Aki Tirem wafat, Sang Dewawarman menggantikannya sebagai penguasa di situ dengan nama nobat Prabu Darmalokapala Dewawarman Haji Raksa Gapura Sagara^ sedang isterinya, Pohaci Larasati menjadi permaisuri denean nama nobat Dewi Dwani Rahayu. Kerajaannya diberi nama Salaka- Hagaq                                                                                                           

*)  Salakanagaia   =      negeri pertama

Daerah kekuasaan Salakanagara meliputi Jawa Barat bagian barat dan semua pulau di sebelah barat Nusa Jawa. Laut di antara Pulau Jawa dengan Sumatera masuk pula ke dalam wilayahnya. Oleh karena itu daerah-daerah sepanjang pantainya dijaga oleh pasukan Sang Dewawarman sebab jalur ini merupakan gerbang laut. Perahu-perahu yang berlayar dari timur ke barat dan sebaliknya harus berhenti dan membayar upeti kepada Sang Dewawar­man. Pelabuhan-pelabuhan di pesisir Jawa Barat, Nusa Mandala (P. Sangiang), Nusa Api dan pesisir Sumatera bagian selatan dijaga oleh pasukan Dewa­warman.

Beberapa kali Dewawarman harus memimpin pasukannya menghadapi bajak laut yang datang mengganggu. Karena ia perkasa dan mahir berperang, gerombolan bajak laut akhirnya dapat. ditumpas dan daerah itu dapat di-bersihkannya dari gangguan mereka.

Dewawarman yang pertama ini menjadi raja selama 38 tahun^dari tahun 52 sampai tahun 90 Saka (130 - 168 M). Ia beristeri dua orang. Yang pertama seorang puteri Benggala di India. Ia meninggal di negerinya. Di sana ada beberapa orang keturunannya. Isterinya yang kedua adalah puteri Aki Tirem. Keluarga Dewawarman memerintah   Salakanagara dengan ibukotanya

yang bernama Rajatapura.  

Adik Sang Dewawarman yang bernama Senapati Bahadura Harigana Jayasakti diangkatnya menjadi raja daerah penguasa mandala Ujung Kulon. Adiknya yang seorang lagi yaitu Sweta Liman Sakti dijadikan raja daerah di Tanjung Kidul dengan ibukotanya Agrabhintapura.  Isterinya berasal dari •   negeri Singala sebuah pulau di sebelah selatan India.

Demikianlah kisah tentang Dewawarman yang menjadi penguasa Salaka­nagara dalam tahun 130 Masehi yang namanya pernah dikaitkan dengan sumber berita Cina tentang adanya seorang raja dari Ye-tiao yang mengirim utusan kepada Maharaja Cina tahun 132 M. Menurut kisah di atas, Dewa­warman pernah bernama Rajatapura (= kota perak) yang terletak di ujung barat labadiou (pulau Jawa).

Sesungguhnya hanyalah ketiadaan data otentik atau berita-sejaman yang menjadi ganjal pemisah di antara kisah di atas dengan berita Cina dan Geo-graphia Ptolemeus untuk disahkan pertaliannya menurut disiplin Ilmu Sejarah yang menitikberatkan otoritasnya kepada sumber tertulis.  **)  Rajatapura      =     kota perak yang sama artinya dengan Argyre (Ptolemeus). 36

4 Keturunan Dewawarman

Kisah keturunan Dewawarman sebagai raja-raja Salakanagara dapat di-ungkap di antaranya dalam Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa I sarga 1 dan parwa HI sarga 1. Juga dalam Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawa-dwipa parwa I sarga 1 dan Pustaka Nagara Kretabhumi parawa I sarga 1 dan tersebar dalam beberapa sarga lain dalam bentuk urutan raja-raja di Jawa Barat.

Ringkasan selanjutnya dari kisah di atas adalah sebagai berikut.

"Dari perkawinannya dengan Pohaci Larasati, Dewawarman I mempunyai beberapa orang anak. Anak tertua laki-laki yang setelah menggantikan ke-dudukan ayahnya bernama Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. Ia men­jadi Dewawarman II yang memerintah dari tahun 90 sampai tahun 117 Saka atau 168 sampai 195 Masehi. Ia menikah dengan puteri keluarga raja Singala (Sri Langka).

Dari perkawinan ini lahir seorang putera yang kemudian menjadi Dewa­warman III dengan gelar Prabu Singasagara Bimayasawirya. Ia menjadi pengu-sa Salakanagara dari tahun 117 sampai 160 Saka (195 - 238 M). Dalam masa pemerintahannya terjadi serangan bajak laut dari negeri Cina yang dapat dihadapi dan ditumpasnya. Dewawarman III kemudian mengadakan hubung-an {pamitran) dengan maharaja Cina dan raja-raja India. Permaisuri Dewa­warman III berasal dari Jawa Tengah.

Puteri tertua yang lahir dari perkawinan ini bernama Tirta Lengkara. Puteri sulung ini berjodoh dengan raja Ujung Kulon bernama Darma Satya-nagara. Kelak ia menggantikan mertuanya menjadi penguasa Salakanagara sebagai Dewawarman IV yang memerintah dari tahun 160 sampai 174 Saka (238 - 252 M). Dari perkawinan in! lahir puteri sulung bernama Mahisasura-mardini Warmandewi. Bersama su.minya yang bernama Darmasatyajaya sebagai Dewawarman V ia memerintah selama 24 tahun (174 — 198 Saka). Ketika Dewawarman V yang merangkap sebagai Senapati Sarwajala (panglima angkatan laut) gugur waktu perang menghadapi bajak laut, sang rani Mahisa-suramardini melanjutkan pemerintahannya seorang diri sampai tahun 211 Saka (289 M). Walau pun gerombolan bajak laut itu dapat ditumpas, Dewa­warman V gugur karena serangan panah dari belakang.

Penguasa Salakanagara beriKutnya adalah Ganayanadewa Linggabumi, putera sulung Dewawarman V atau sang mokteng samudra (yang mendiang di lautan). Prabu Ganayana menjadi penguasa Salakanagara sebagai Dewa­warman VI selama 19 tahun dari tahun 211 sampai 230 Saka (289 - 308 M). Dari perkawinannya dengan puteri India, ia mempunyai beberapa putera dan puteri. Putera sulungnya yang kemudian sebagai Dewawarman VII memerintah Salakanagara tahun 230 sampai 262 Saka (308 - 340 M) bergelar Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati. Yang kedua seorang puteri bernama Salaka Kancana Warmandewi yang menikah dengan menteri kerajaan Gaudi (Benggala) di India bagian timur. Puteri yang ketiga bernama Kartika Candra Warmandewi. la menikah dengan seorang raja-muda dari negeri Yawana. Yang keempat laki-laki bernama Ghopala Jayengrana. la menjadi seorang menteri kerajaan Calankayana di India.

Yang kelima seorang puteri bernama Sri Gandari Lengkaradewi. Suami puteri ini adalah menteri-panglima angkatan laut kerajaan Palawa di India. Putera bungsu Dewawarman VII adalah Skandamuka Dewawarman Jayasatru yang menjadi senapati Salakanagara."

Puteri sulung Dewawarman VII bernama Spatikarnawa Warmandewi. Kelak bersama suaminya akan menggantikan ayahnya sebagai penguasa Sa­lakanagara kedelapan. Dewawarman VII mempunyai hubungan erat dengan kerajaan Bakulapura karena pertalian kerabat permaisurinya. Kakajc sang permaisuri ini menikah dengan penguasa Bakulapura (di Kalimantan) yang bernama Atwangga putera Sang Mitrongga. Mereka keturunan wangsa Sdngga dari Magada yang pergi mengungsi tatkala negerinya dilanda serangan musuh. Dari perkawinan puteri ini dengan Atwangga lahirlah Kudungga yang kelak menggantikan ayahnya menjadi penguasa Bakulapura."

"Ketika Prabu Bima Digwijaya Satyaganapati atau Dewawarman VII wafat, tibalah di Rajatapura Senapati Rrodamaruta dari Calankayana ber­sama beberapa ratus orang anggota pasukannya bersenjata lengkap. Krodama-ruta adalah putera Senapati Gopala Jayengrana yaitu putera Dewawarman VI yang keempat yang menjadi menteri di kerajaan Calankayana. Krodamaru-ta langsung merebut kekuasaan dan tanpa menghiraukan adat pergantian tahta ia merajakan diri menjadi penguasa Salakanagara.

Ahli waris tahta yang sah adalah Spatikarnawa Warmandewi puteri sulung Dewawarman VII. Ia belum bersuami. Karena kelakuan Krodamaruta bertentangan dengan adat, sekali pun ia masih cucu Dewawarman VI, keluar-ga keraton beserta sebahagian penduduk Salakanagara tidak menyenanginya. Akan tetapi Krodamaruta tidak lama berkuasa karena ia tewas tertimpa batu besar ketika berburu di hutan. Batu itu berasal dari puncak sebuah bukit. Akibat peristiwa itu Krodamaruta hanya 3 bulan menjadi penguasa Salaka­nagara. Kemudian Spatikarnawa Warmandewi dinobatkan menjadi penguasa Salakanagara menggantikan ayahnya tahun 262 Saka (340 M). Dalam tahun 270 Saka sang rani menikah dengan saudara sepupunya, putera Sri Gandari Lengkaradewi yaitu puteri Dewawarman VI yang kelima. Ia bersuamikan panglima angkatan laut {senapati sarwajala) kerajaan Palawa. Lengkaradewi beserta suami dan puteranya datang di Rajatapura dalam tahun 268 Saka (346 M) sebagai pengungsi karena negaranya telah dikuasai oleh Maharaja Samudragupta dari keluarga Maurya.

Setelah pernikahannya, Rani Spatikarnawa Warmandewi memerintah bersama-sama suaminya yang sebagai Dewawarman VIII bergelar Prabu Dar-mawirya Dewawarman. Ia memerintah tahun 270 sampai 285 Saka (348 — 363 M)."

"Dalam masa pemerintahan Dewawarman VIII kehidupan penduduk makmur-sentosa. Ia sangat memajukan kehidupan keagamaan. Di antara pen­duduk ada yang memuja Wisnu, namun jumlahnya tidak seberapa. Ada yang memuja Siwa, ada yang memuja Ganesa dan ada pula yang memuja Siwa-Wisnu. Yang terbanyak pemeluknya adalah agama Ganesa atau Ganapati.

Mata pencaharian penduduk ialah berburu di hutan, berniaga, menangkap ikan di laut dan sungai, beternak, bertanam buah-buahan, bertani dan sebagai-nya.

Sang raja membuat candi dan patung Siwa Mahadewa dengan hiasan bulan-sabit pada kepalanya (mardhacandra kapala) dan patung Ganesha (Ghayanadawa). Juga patung Wisnu untuk para pemujanya. Penduduk selalu berharap agar hidup mereka sejahtera, jauh dari kesusahan dan mara bahaya."

"Dewawarman VIII mempunyai putera-puteri beberapa orang. Yang sulung seorang puteri bernama Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi atau Dewi Minawati. Puteri yang amat cantik ini kelak diperisteri oleh Maharesi Jajw-

singawarman Gurudarmapurusa    

Yang kedua seorang putera bernama Aswawarman. Ia diangkat anak sejak kecil oleh Sjang Kudungga, penguasa Bakulapjjg. Kemudian dijodohkan dengan puteri Sang KuaunggiL

Yang ketiga seorang puteri bernama Dewi Indari yang kelak diperisteri oleh Maharesi Santanu, raja Indraprahasta yang pertama. Putera Sang Dewa­warman VIII yang lainnya tinggal di Sumatera dan menurunkan para raja di sana. Di antara keturunannya kelak adalah Sjflg^A^ityawarman^Anggota keluarganya yang lain tinggal di Yawana dan Semananjung.

Puteranya yang bungsu menjadi putera mahkota. Kelak setelah ayahanda-nya wafat ia menggantikannya menjadi penguasa Salakanagara. Akan tetapi ia menjadi bawahan raja Tarumanagara karena kerajaan ini telah menjadi


besar dan kuat. Demikian pula Sang Aswawarman menjadi raja yang besar kekuasaannya di Bakulapura.

Permaisuri Dewawarman VIII ada dua orang. Permaisuri yang pertama ialah Rani Spatikarnawa Warmandewi yang menurunkan raja-raja di Jawa Barat dan Bakulapura. Permaisuri yang kedua bernama Candralocana puteri seorang brahmana dari Calankayana di India. la menurunkan raja-raja di Pulau Sumatera, Semananjung dan Jawa Tengah.'

Demikianlah kisah keturunan Dewawa.man Darmalokapala yang menjadi penguasa di Salakanagara. Kerajaan ini berdiri sebagai kerajaan bebas selama 233 tahun (130 — 363 M). Dewawarman VIII dianggap sebagai raja Salakana­gara terakhir sebab puteranya, Dewawarman IX, sudah menjadi raja bawahan Tarumanagara.

*



 


Tue, 4 May 2010 @23:55

Tokoh Yg Terlupakan !
image

Mama Raden Kiayi Haji Syamsudin


Dari beliaulah lahir beberapa pesantren terkenal di Kab.Garut terutama di Kec. Limbangan & selaawi, Salah satunya Pesantren Assunan, Kudang, Ciseureuh, & Cikeused
Menu Utama

                   

Loading


Peresmian Mesjid Darul Muhtadin Pontren Assunan Padaleman Sunan Pancer Limbangan Garut 10/02/2012

A ssunan R adio F M.

              

        Photo Bupati Garut



 

Bookmark and Share




SLINK
Copyright © 2014 Yayasan Assunan Limbangan · All Rights Reserved
RSS Feed